Sabtu, 20 Maret 2010

Ingin hidup 1000 tahun lagi

Jika Sang pencipta menghendaki, aku ingin hidup 1000 tahun lagi. Aku sangat bersyukur sekali apabila Dia memberikan umur panjang dan kesehatan yang cukup untukku. Bukan untuk suatu keegoisan diri, namun untuk memperbaiki diri. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Aku sadar, ternyata masih banyak hal-hal penting yang belum aku selesaikan di dunia ini. Selama ini aku belum berbuat apa-apa. Aku hanya "diam" dan mengikuti arus saja tanpa berpikir. Aku belum membuat sesuatu yang "besar" di dalam hidupku. Aku tidak ingin ibuku sia-sia mengandungku selama 9 bulan dan melahirkanku dengan susah payah, sampai mempertaruhkan nyawanya hanya untuk seorang bayi kecil yang mengalami kalung usus ini.

Bapakku pernah berkata : "Wong urip kuwi angel, kanca-kancamu kuwi sakjane sainganmu dewe. Dadi kowe kudu sregep sinau, ojo ubyang-ubyung wae". Sampai sekarang kata-kata itu masih terngiang di kepalaku. Bener juga ya kata bapak, kadang aku sering terlena dengan hal-hal yang lebih menarik daripada setumpuk buku pelajaran. Kadang aku juga tidak pernah mau memikirkan untuk masa depan. Oh, tuhan... ampunilah anakMu ini. Semoga kali ini aku belum terlambat.

Jumat, 19 Februari 2010

tebak nasib

Suatu hari hiduplah seorang makhluk, lebih tepatnya seorang laki-laki yang dari kecil memang sudah haus kasih sayang. Laki-laki itu tumbuh menjadi seorang pemuda yang pandai melucu(tapi garing), banyak tingkah, dan banyak omong. Bisa dibilang NATO, No Action Talk Only! meskipun umurnya sudah berkepala dua namun pemikirannya masih seperti anak kecil. Ia tersesat di kehidupan yang biasa hidup enak, suka malas-malasan dan tidak memikirkan masa depan. Dia selalu ingin mendapatkan kebahagiaan secara instant. Tidak suka diajak hidup susah, dan memang tidak mau susah.

Setiap hari kerjaannya hanya baca komik, sms-an ma pacar+mantan pacar+gebetan (semua dapet jatah lho. gile bener...), ke warnet_ download-download nggak jelas, ngecengin cewek-cewek, wisata kuliner, tidur, bolos kuliah, menolong teman (dibaca : menolong teman cewek yang kebetulan tidak bawa motor, dengan cara mengantarkannya pulang, menolong teman cewek yang butuh teman makan bareng, menolong teman cewek yang sedang kesepian). Kapan ya belajarnya?

Apa jadinya pemuda ini 10 tahun mendatang?
tunggu episode berikutnya... (10 tahun lagi)^_^

Sabtu, 23 Januari 2010

Hujan, Kau membuatku kembali mengingatnya

Ketika itu hujan rintik-rintik. Hawa dingin terasa sejuk dan segar, suasana ini membuatku serasa kembali ke masa-masa terindah yang dulu pernah aku alami bersama seseorang. Dia adalah seseorang yang pernah mengisi hari-hariku dengan penuh warna, walaupun hanya bertahan 8 bulan saja. Namun aku tidak menyesal telah mengenalnya. Karena dia adalah cinta pertamaku, sejak saat itu aku baru mengenal apa itu cinta dan kasih sayang.

Aku kembali membuka diaryku yang telah usang, yang sudah bertahun-tahun tergeletak di almariku. Diary itu menceritakan tentang isi hatiku ketika bersamanya. Sesekali aku tersenyum, melihat dan membaca beberapa kalimat yang aku tulis disitu. Di bagian depan sampul diary, terdapat sebuah stiker yang bentuknya diukir sesuai dengan nama kami berdua. Di bagian tengah, terdapat sebuah surat yang dulu pernah ia berikan kepadaku, berupa selembar kertas loose lif berwarna biru bergambar mickey mouse. Kemudian di bagian belakang diary, aku menyimpan beberapa kartu ucapan darinya. Seperti ucapan valentine, ultah, natal, dan tahun baru. Disamping itu, aku juga masih menyimpan bunga mawar kering yang pernah ia berikan 7 tahun yang lalu. Tak lupa, aku juga menyisipkan foto-foto miliknya.

Hari Jumat, tanggal 31 Januari 2003 tepat jam 2 siang kami resmi jadian. (aku inget banget, dulu kita duduk berdua di teras rumahku. Kamu pake baju merah gambar spiderman, kalo aku pake baju pink yang ada topinya di belakang. hehe...)Hari itu aku merasa senang sekali. Berhubung umurku terpaut 2 tahun lebih muda darinya, maka aku cenderung bersikap manja, kayak anak kecil, overprotected, suka melarang ini itu, curigaan dan cemburuan banget. Mungkin itu semua cukup mengganggu aktivitasnya sehari-hari. (Maaf ya, dulu aku memang seperti anak kecil banget yang tidak pernah mengerti apa yang kamu inginkan. Tapi seperti inilah aku, yang mencoba ingin mencintaimu sepenuh hati tapi belum tahu cara yang tepat untuk mengungkapkan bahwa aku benar-benar sayang kamu)

Nah, berhubung sekarang aku udah tumbuh menjadi seorang gadis yang dewasa, aku baru berani mengungkapkan semua ini disini. Tapi jangan salah paham dulu, sekarang perasaan itu sudah tidak ada lagi dan aku hanya menganggapmu sebagai teman dan hanya teman. Terima Kasih, karena kau pernah menjadi bagian termanis dalam hidupku.

Selasa, 08 Desember 2009

Bersemangat, Meski Hidup Tak Semanis Kue


Minggu, 6 Desember 2009, merupakan salah satu hari yang terbilang luar biasa bagi kami. Di bawah sebuah pohon rindang yang menaungi kesunyian trotoar kampus UKSW siang itu, kami bertemu dengan seorang lelaki setengah baya, terduduk di samping sebuah gerobak berwarna merah muda. Lelaki yang bernama Sungatmin itulah yang membuat hari Minggu kami menjadi istimewa. Keistimewaan itu kami temukan setelah sekitar 30 menit berbincang tentang seluk beluk hidup yang dienyamnya selama 47 tahun.

MESKI HIDUP TAK SEMANIS KUE: Sungatmin dengan gerobak kuenya

Sungatmin menuturkan kesederhanaan hidup yang dibangun di atas pekerjaannya sebagai seorang penjual kue. Setiap harinya, pria yang bertempat tinggal di daerah Pereng Salatiga itu menempuh 45 menit perjalanan dengan kedua kakinya menuju pabrik pembuat kue yang akan dijajakannya. Setelah itu, ketika waktu menunjukkan pukul 5 pagi, Sungatmin mulai mendorong gerobaknya yang berisi beraneka macam kue, roti dan susu kedelai menuju Puskesmas Kalicacing, di mana dia berjualan kue pada hari Senin hingga Sabtu. Tiba pada hari Minggu, dia berpindah tempat berjualan ke muka gerbang kampus UKSW, seperti yang dilakukannya hari ini. Begitu menghentikan gerobak di tempatnya berdagang, Sungatmin akan menanti kedatangan pembeli hingga pukul 2 siang, dan sehabis itu dia akan mendorong gerobak kembali ke pabrik kue untuk mempertanggung jawabkan hasil dagangannya hari itu. “Dalam satu hari, saya mendapatkan 20% dari hasil penjualan kue-kue ini. Ya, kadang-kadang dapat dua puluh ribu, kadang-kadang bisa sampai dua puluh lima ribu, tapi ya kadang malah cuma dapat sepuluh ribu saja,” kata pria beranak dua tersebut.

Pekerjaan sebagai pedagang kue telah dijalani Sungatmin selama 3 tahun terakhir, setelah sebelumnya dia bekerja sebagai kurir enting-enting gepuk khas Salatiga dengan tujuan Cepu Jawa Timur dan Tasikmalaya Jawa Barat, kemudian beralih ke pekerjaan sebagai kurir es balok selama 21 tahun. “Saat saya bekerja di pabrik es balok, saya pernah jatuh terpeleset waktu membawa es balok sebesar ini,” ujarnya sambil menunjuk batang pohon yang ada di belakangnya, “Sampai tangan saya patah dan harus diurut dengan biaya 1 juta.” Menurut keterangan yang dipaparkan oleh Sungatmin, pihak pabrik es balok tidak memberikan biaya berobat. Sungatmin membiayai pengobatan tangannya itu dengan uang yang disisihkan dari hasil pekerjaan setiap harinya. “Karena kecelakaan itu saya keluar dari pekerjaan saya dan menganggur selama 1 tahun di rumah, baru setelah itu saya bekerja lagi sebagai kuli bangunan selama 3 bulan kemudian melamar pekerjaan di perusahaan kue sampai sekarang.”

Bagi sebagian orang, mungkin pekerjaan sebagai penjual kue dianggap remeh dan mendatangkan untung kecil. Namun, dari pekerjaan itu, Sungatmin dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, menyekolahkan anak bungsunya hingga jenjang SMK, bahkan menyisihkan sebagian penghasilan hariannya untuk ditabung di bank. Sebenarnya, apa yang menjadi rahasia sukses dari seorang Sungatmin? Mind set! “Yang penting pikiran kita dalam bekerja itu santai, nggak perlu ngoyo, buat saya yang penting keluarga bisa makan cukup, anak bisa sekolah sampai berhasil,” tutur Sungatmin yang tampak sangat membanggakan anak bungsunya yang dapat memainkan beberapa alat musik. Selain mind set tentang hidup yang santai, Sungatmin juga memberlakukan hidup hemat terutama terhadap anak lelakinya yang bernama Bayu Kurniawan. Sungatmin sengaja tidak membelikan motor untuk puteranya, “Bukannya saya nggak bisa, tapi uangnya mau saya tabung dulu untuk diberikan pada Bayu setelah lulus SMK, karena kalau dibelikan sepeda motor sekarang, takutnya dipakai macam-macam seperti anak-anak jaman sekarang.”

Sebuah teladan yang bisa kita petik dari penuturan pengalaman hidup Sungatmin, seorang penjual kue yang bangga dengan kesederhanaannya, yaitu bagaimana kita mengatur dan menjalani hidup ini dengan penuh syukur hingga kita meraih kesuksesan dalam hidup sesuai ukuran yang kita tentukan. (kelompok 1, Pelatihan Jurnalistik )

Jumat, 20 November 2009

Aku ingin menolongmu, tapi aku tak bisa

Saat aku mendengar beberapa untaian kalimat yang keluar dari mulutmu, aku jadi teringat masa laluku dimana aku telah mengalami hal yang sama seperti kamu. Tapi hanya beberapa hal yang sama, tidak semuanya. Waktu itu aku juga tidak bisa mengambil keputusan dan bersikap tegas terhadap seseorang. Aku tahu, kamu pasti sekarang berada di posisi sulit dimana kamu tidak bisa membuat suatu keputusan yang tegas. Apabila situasinya sudah seperti ini, mau gimana lagi? Semua sudah terlambat.itu pikirmu. Tapi pikiranku lain, aku ingin kamu bisa bangkit kembali, hadapi dia dengan semampumu. Jadilah dirimu sendiri. Marahlah kapanpun kamu mau. Menangislah ketika kamu butuh. Lawan dia, jangan mau kalah, karena kamu benar. Jangan pendam segala gejolak di hatimu. Ungkapkan kalau kamu tidak suka. Ngomong kalau kamu nggak mau. Bicaralah terus terang sama dia. Dia nggak bakalan pernah tahu apa yang kamu rasakan selama ini. Say,jangan siksa dirimu seperti ini terus. Aku yakin kamu pasti bisa. Jangan kecewakan orang-orang yang mengasihimu.
Kita semua sayang kamu, kita semua nggak ingin kehilangan kamu, kita semua ingin melihat kamu bahagia, TANPA PAKSAAN.
Aku tunggu perkembanganmu teman. Semoga kamu bisa menikmati hidup ini tanpa ancaman, paksaan, kekerasan, dan cacian.

Jumat, 13 November 2009

Misconception

Kadang aku merasa bersalah sama kamu, karena selama aku menjalin hubungan bersamamu (dulu), aku jarang banget punya waktu buat kamu. Sampai-sampai hal sepele pun menjadi masalah. Katamu, aku ini sok sibuk, ingin mencari kesempurnaan, egois, tidak punya perasaan, nggak care sama pacarnya sendiri, lebih mementingkan teman daripada pacar, and so on. Semua itu membuatku sakit hati. Tapi thanks yah buat kritik dan saranmu itu.
Tahukah kamu? aku melakukan semua itu bukan semata-mata untuk melukai hatimu melainkan aku ingin kita berdua menjadi lebih baik. Bisa survive dan semakin kuat dalam menghadapi segala masalah. Aku tidak ingin membuang waktuku dan menyia-nyiakan masa mudaku hanya untuk hal-hal yang tidak jelas. Selama ini aku hanya mencoba mengembangkan potensiku, melebarkan sayapku untuk bisa berinteraksi dengan teman-teman, bertukar pikiran dengan mereka, belajar untuk bekerja sama dengan orang lain, dan mencoba suatu tantangan yang baru, pastinya yang positif dong. Apa itu salah? Kenapa kamu tidak mau ngertiin aku sedikit saja? Padahal aku berharap kamu akan mendukung semua aktivitas dan kegiatanku.


Maaf,
Aku tidak bisa berubah seperti yang kamu mau, karena aku adalah aku, dan aku bukanlah kamu.
Biarkan aku untuk menjadi diriku sendiri.
Biarkan aku untuk mencari duniaku sendiri.

Iya,aku memang egois. seperti katamu dulu.
Namun suatu hari nanti, kamu pasti akan tahu, mengapa aku melakukan semua ini.


Terima Kasih buat seluruh perhatianmu ke aku,
Kesabaranmu, Pengorbananmu, dan Kasih Sayangmu.

Kamis, 24 September 2009

Liburan yang Berkesan

Liburan kali ini benar-benar menyenangkan.

Aku bisa bertemu dengan teman2 TK-ku, SD-ku, SMP-ku, dan SMA-ku lewat reunian. Kangen rasanya, ingin berkumpul dan foto-foto lagi.

Aku bahagia karena bisa berbagi cerita dan pengalaman bersama mereka. Ternyata teman-temanku sangat luar biasa.

Ketika bertemu teman-teman alumni TK Seruni, kami langsung makan bareng di restaurant "PANDA". Disana kita makannya cuma beberapa menit, tapi foto-fotonya itu lho hampir 1 jam sendiri. Sampe tidak enak sama pengunjung lainnya. Setelah itu kami meluncur ke TK Seruni, tempat dimana kami pertama kalinya belajar dan bermain bersama teman-teman. Disana tidak banyak yang berubah. Masih sama seperti yang dulu.



Setelah itu, kami menapak tilas ke SD Kristen Pangen, SDku tercinta. Wah sekarang sudah terakreditasi "A". oke lah kalau begitu.

Ketika menghadiri reunian SMP Negeri 1 Purworejo, aku tidak menyangka yang datang bakalan sebanyak itu. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu mereka. Ada yang tambah kurus, ada yang tambah gemuk seperti aku ini, ada yang masih suka bikin sensasi, ada yang suka heboh, ada yang kalem-kalem aja seperti aku ini.

Ketika menghadiri reunian SMA Negeri 6 Purworejo, aku kaum minoritas sendiri. Soalnya disitu kebanyakan kakak angkatan semua, angkatanku cuma 3 orang.



Di hari yang berbeda, aku main ke rumah temanku yang jalannya ngalur ngidul ngetan ngulon, pokoknya muter-muter.Tapi akhirnya sampai juga. Disana kita langsung minta traktiran Bakso, karena temanku yang satu ini sudah bekerja di Bandung. Lumayan, makan gratis.

Dan yang pasti, liburan kemarin aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke makam papaku. I miss U Dad.
Ternyata nasihat-nasihat beliau selama ini benar juga ya, aku bangga punya papa sepertimu.

Terima kasih Tuhan,
Terima kasih Papa, Ibu, Mbak Ai,
Terima kasih teman,
Aku tidak bisa hidup tanpa kalian semua.