Selasa, 29 Mei 2012

Angka Bukanlah Segalanya



Gambar di atas merupakan salah satu dokumentasi dari nilai raportku ketika SD. Saat itu aku bersekolah di SD Kristen Pangen Purworejo. Sempet nggak nyangka, ternyata dulu aku pernah pinter juga. Hmm, ralat : lebih tepatnya beruntung! Bisa jadi karena jumlah muridnya yang terlampau sedikit, dan hawa kompetisinya masih belum begitu terasa sehingga tanpa aku sadari saat itu adalah saat dimana aku sedang jatuh dan terlena.  (Peringkat 1 dari 11 siswa).

Akhirnya masuklah aku ke SMP Negeri 1 Purworejo. SMP yang konon katanya paling favorit “kedua” se-kabupaten Purworejo. Lho, kenapa nggak masuk ke SMP favorit “pertama” aja? Nah itu dia, karena dulu aku terlalu cepat berpuas diri dengan hasil prestasi yang pernah aku dapatkan sebelumnya sehingga aku tidak menyadari bahwa ternyata ada banyak saingan di luar sana. (Peringkat 4 ke 2 dari 40 siswa).


 
Nah, kalau yang ini lain ceritanya. Sekedar informasi saja, setelah lulus SMP aku melanjutkan ke SMA Negeri 6 Purworejo dan saat itu aku cuma menjadi pelajar yang “pas-pasan”. Pas ada PR atau tes semesteran baru giat belajar. Tapi kalau pas nggak ada PR atau sejenisnya, ya udah nggak belajar. Pas-pasan banget memang. Saat duduk di bangku kelas 1, aku hanya mendapatkan peringkat 10 besar. Itupun yang bagian bawah, seperti ranking 9 dan 10. Parahnya lagi saat naik ke kelas 2, aku sama sekali  tidak mendapatkan ranking! Hingga akhirnya ketika aku naik ke kelas 3, aku mempunyai sebuah cita-cita yang mungkin terdengar remeh. Aku ingin namaku dipanggil ketika upacara bendera dan bisa berdiri tegap disamping seseorang yang aku kagumi untuk menerima penghargaan hasil pencapaian prestasi yang baik. Biasanya yang namanya dipanggil adalah mereka yang mendapatkan peringkat 1, 2, dan 3 di setiap kelasnya. Kebetulan orang yang aku kagumi itu adalah siswa yang selalu mendapatkan peringkat 1 di kelasnya. Wow, keren sekali! Keren prestasinya, keren orangnya, dan juga hatinya.

“Tidak ada yang tidak mungkin jika kita ada niat dan usaha”, itulah mottoku saat itu. Awal semester kelas 3 aku belajar lebih giat dari sebelumnya. Mulai fokus untuk memperbaiki nilai dan selalu menyempatkan diri untuk latihan soal di rumah. Belajar menjadi makanan sehari-hari dan nggak tahu kenapa aku justru sangat menikmatinya! Hingga akhirnya aku terima raport di semester pertama, ketika mengetahui hasilnya aku sedikit kecewa karena aku belum bisa merealisasikan cita-citaku. Hasil belajarku masih belum memenuhi standar, peringkat 10 besar pun belum berhasil aku dapatkan. Saat upacara bendera aku hanya menghela nafas panjang karena belum bisa menemani sosok yang ku kagumi itu untuk menerima penghargaan. Oke, masih ada kesempatan lagi di semester berikutnya. Aku masih tetap belajar, belajar, dan terus belajar. Prioritasku saat itu lebih kepada masa depanku kelak. Semoga aku bisa lulus dengan nilai yang baik! Benar, doaku terkabul. Saat pengumuman kelulusan tiba, aku bersyukur sekali karena telah dinyatakan lulus dengan nilai baik, dan Tuhan juga memberikan bonus untukku yaitu mendapat peringkat ke 3 dari 32 siswa!!! Wuahhh…mukjizat banget!! 3 kali berturut-turut nggak pernah dapet rangking, eh tau-tau udah nangkring di peringkat 3 aja. Senang sekali pastinya. Cinta memang is magic! Sesuatu banget! Tapi lagi-lagi harapanku untuk berbaris dan berdiri tegap bersama sosok yang ku kagumi itu hanya impian belaka karena kita sudah pada… LULUS. 

Jadi, kapan kita bisa upacara bareng lagi? :)



Sabtu, 19 Mei 2012

Not Impossible, but I'm possible

Calon Penulis buku best seller 2020! :)

Sabtu, 21 April 2012

My Dream's (part 3)


  1. Mendirikan sekolah untuk anak-anak, yang visi misinya terkait dengan “pendidikan yang membebaskan”.
  2. Sekolah berkuda di Arrowhead Horse Riding School, Tingkir Salatiga.
  3. Menciptakan suatu resep makanan baru yang bisa dijadikan wirausaha / bisnis waralaba. Rasanya enak, harga terjangkau, dan mempunyai ke-khasan tersendiri. Punya brand sendiri dan dapat membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Dalam menyeleksi karyawan pastinya tetap memperhatikan kualifikasi tertentu yang sesuai dengan bidangnya masing-masing.
  4. Buka kursus atau pelatihan gratis untuk ibu-ibu rumah tangga. Contohnya : membuat prakarya yang bermanfaat, bisa juga menggunakan barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai namun kualitasnya masih bagus. Hasil dari prakarya tersebut dapat dijual untuk menambah pemasukan bulanan mereka.
  5. Menjadi volunteer atau sukarelawan di panti asuhan/ korban bencana alam.
  6. Ikut les tari tradisional di Kraton Yogyakarta.
  7. Memperkenalkan budaya Indonesia ke luar negeri melalui kesenian, baik itu seni musik, seni tari, maupun seni rupa.
  8. Belajar dan menguasai bahasa-bahasa asing.
  9. Mempunyai ruangan khusus untuk latihan menyanyi atau menari yang sekeliling temboknya dilapisi dengan kaca-kaca cermin.
  10. Mempunyai dapur minimalis lengkap dengan perabotan memasaknya dan bumbu-bumbunya.
  11. Menjadi guru, idola, dan teladan yang baik untuk anak-anakku nanti.
  12. Punya bisnis kuliner kesehatan, yang intinya membantu orang sakit agar bisa makan enak namun tetap memperhatikan kesehatannya. Berdasarkan pengamatan, makanan orang sakit apalagi yang disajikan di rumah sakit cenderung memiliki cita rasa yang kurang enak. Oleh sebab itu, saya ingin menciptakan menu makanan yang bisa dikonsumsi orang sakit sesuai dengan kriteria penyakit mereka masing-masing.
  13. Punya seperangkat alat lukis lengkap, mulai dari canvas, stand canvas, aneka cat minyak, kuas dari berbagai ukuran, dll.
  14. Punya seperangkat alat make up artis professional merek PAC dari Martha Tilaar.
  15. Memperkenalkan budaya kota Purworejo melalui tulisan & fotografi.

Semoga mimpi-mimpiku ini bukan hanya sekedar angan-angan, atau hitam diatas putih. Aku ingin suatu hari nanti mimpiku dapat menjadi kenyataan... Amin. Dan aku PERCAYA itu. Doakan yah teman! ^^




    Jumat, 03 Februari 2012

    Kalau Gagal, Cepatlah Bangkit!

    Siang itu (20/11/2011) aku bertemu dengan salah satu guru sekolah minggu, dia adalah seorang laki-laki. Kebetulan kami baru saja selesai menunaikan kewajiban kami mengajar di kelas sekolah minggu. Kami berkumpul di ruang rapat sambil menikmati tahu bakso, donat, dan secangkir teh manis hangat. Karena kami tidak begitu kenal satu sama lain, maka mulailah kami dengan obrolan ringan.

    Kak, kamu suka makan donat yah? 
    -malu2-
    Ehm, bapak kamu penjual donat yah?
    -hening-
    Btw, muka kamu kok kayak donat? 
    -tidak mungkin hening-

    Bukan. Bukan ini yang kita omongin.

    Seperti biasa, kita membahas tentang hal-hal seputar perkuliahan. Ujung-ujungnya dia bertanya tentang daerah tempat asalku, lalu aku jawab apa adanya kalau aku berasal dari Purworejo. Tiba-tiba dia mengeluarkan statement bahwa dia paling minder sama orang Jawa (Kebetulan dia bukan orang Jawa). Lalu aku bertanya dengan penuh heran: “Kok bisa? Kenapa harus minder sama orang Jawa?” Lalu dia menjawab kalau kebanyakan orang Jawa itu pintar-pintar! Wow, sebagai orang Jawa aku merasa tersanjung, namun di sisi lain aku sadar diri bahwa (mungkin) aku bukan bagian dari “orang Jawa pintar” yang dia maksud. Dia juga bilang ketika ada kerja kelompok di kampus yang anggotanya dominan orang Jawa, dia milih nggak ikutan kumpul kelompok, dia hanya bertanya seperlunya :”Bagian mana saja yang harus aku kerjakan?” Setelah itu dia memilih untuk pergi dari teman-temannya dan mengerjakan tugasnya sendirian di kost. Yuph betul, Sendirian. Begitu pula seterusnya.

    Aku bertanya dalam hati, sebenarnya apa sih yang membuat dia menjadi seperti itu? Akhirnya dia bercerita bahwa dia pernah mengalami kegagalan (ternyata kegagalan ini tidak ada hubungannya dengan orang Jawa) dan hal itu sempat membuatnya benci kepada Tuhan. Dia juga mengaku bahwa baru mulai hari itu dia mengikuti kebaktian di gereja, kemarin-kemarinnya dia bolos. Kegagalan yang dia alami memang cukup berat yaitu dia pernah tidak lulus ujian nasional, bukan cuma sekali tapi 2 kali. Hal itu membuat dia berpikir bahwa dia adalah manusia yang paling bodoh dan tak berguna sampai-sampai dia juga bercerita tentang isi doanya saat dia gagal. Ia bilang kepada Tuhan, katanya : “Tuhan, mengapa Engkau tidak mencabut nyawaku saja ketika dulu aku lahir?” dramatis banget kedengarannya. Dia juga mengatakan bahwa dia menjadi lebih sering menangis setelah peristiwa itu. Padahal dia cowo loh. (Lah terus kalau dia cowo emang kenapa? Nggak boleh nangis gitu?)

    Saat itu aku hanya bisa terdiam dan merasa bahwa orang yang sedang duduk di depanku ini sepertinya sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Dia butuh teman! Teman yang dapat mengembalikan rasa percaya dirinya. Aku hanya bisa bilang ke dia bahwa setiap orang pastinya punya masalah dan pergumulan dalam hidupnya. Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut. Jangan biarkan sesuatu yang TIDAK BISA kita kerjakan mengganggu apa yang BISA kita kerjakan. Ibarat ketika ada kenaikan kelas di sekolah, setiap murid wajib mengerjakan ujian atau tes terlebih dahulu sampai dinyatakan lulus. Setelah itu barulah si murid diperbolehkan untuk naik ke kelas berikutnya. “Begitu juga dengan kita kak.. Jika kita ingin naik tingkat/level yang lebih tinggi, kita harus mampu menyelesaikan persoalan yang sebelumnya. Bisa jadi kegagalan yang pernah kita alami itu adalah penguat kita di masa yang akan datang.” kataku dengan penuh ke-sotoy-an, padahal copy paste kalimatnya Pak Mario Teguh. Hihihi…Ssst, jangan bilang-bilang ya. Setelah khotbahku selesai, kakak itu hanya manggut-manggut saja. Nggak tahu juga, manggut-manggut tanda setuju atau cuma ingin menghargai aku ngomong. :)

    Pulang dari gereja, aku renungi kembali cerita tentang si guru sekolah minggu tadi. Meskipun aku tidak bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan namun sepertinya ia butuh pengakuan, penerimaan diri, dan pujian dari orang lain untuk mengobati rasa sakit hatinya tentang kegagalan yang pernah ia alami. Pantesan aja di awal obrolan ada yang aneh, dia selalu menonjolkan sisi akademisnya, semacam pamer kepandaian gitu. Dia bilang kalau belajar bisa sampai pagi (jangan bilang kalau mulai belajarnya jam 1 pagi trus selesainya jam 1 pagi lebih 5 menit). Dia juga cerita kalau bersedia ngajarin tugas mata kuliah teman-temannya secara sukarela sampai dibela-belain datang ke rumah temannya itu (waduh kak..itu mah namanya kerja rodi, nggak perlu segitunya juga kali. Masih banyak cara lain yang lebih elegan untuk meningkatkan rasa percaya diri). Dia bilang hampir setiap hari tidak ada waktu luang karena sibuk. Rapat sekolah minggu aja dia sering nggak datang. Tapi 5 menit kemudian dia keceplosan kalau kemarin barusan nonton bola sampai pagi. (Baguss!!) Sering ngomongin hal-hal yang sebenarnya tidak penting untuk dibahas. (Berarti kayak aku gini yah, bikin note yang nggak penting. hehe). Becandaannya terkesan crunchy banget, nggak lucu sama sekali tapi tetep dilucu-lucuin. Kadang aku juga ikut nemenin ketawa, kasian dia udah berusaha menghibur kita tapi kok nggak ada yang ketawa. Aku jadi memaklumi mengapa dia bisa bersikap seperti tadi. Maklum banget. Maaf ya kak, udah ngerasani kakak yang enggak-enggak. Mana jari kelingkingnya? Kita baikan yah…

    Kalem-kalem gini, aku sendiri juga pernah gagal. Malah mungkin kegagalan yang aku alami lebih banyak dari dia. Aku pernah gagal masuk SMA favorit, nyesel banget pastinya. Aku juga pernah gagal dan dinyatakan tidak lolos dalam audisi voice paduan suara UKSW padahal udah dibela-belain nari India nggak jelas di kelas koreografi, trus pulang sampai larut malam. Kesalahanku yang paling fatal adalah ketika sesi wawancara. Jawabanku emang rada nyleneh, aku bilang motivasiku ikut audisi yaitu supaya bisa jalan-jalan ke Jepang! Gila nggak tuh, jujur banget! Kadang jujur sama bego itu beda tipis. Kenapa aku bisa jawab gitu, karena kebetulan anggota voice yang lalu sempat tampil di negeri sakura dan aku jadi terobsesi untuk ikut audisinya. Hehehe. Kegagalan yang lainnya yaitu proposal skripsiku ditolak sebanyak 2 kali padahal bikinnya udah madep manteb dan udah yakin banget kalau bakal diterima namun ternyata takdir berkata lain. Cuma gara-gara itu aku sempat mutung dan males ngurusin skripsi, sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia. Kegagalan lain yang bikin miris aku gagal mempunyai postur tubuh yang tinggi. Udah coba minum susu kalsium setiap hari, olahraga loncat-loncat nggak jelas, namun hasil akhir tetap saja nihil. Pertumbuhanku bukannya ke atas tapi malah ke samping. Hks. Dan yang sering bikin aku galau, udah segedhe ini usia juga udah mulai uzur tapi belum juga punya pacar (lagi). Sedih yah..Hehe. Tapi sekali lagi, aku jadi ingat kalimat berikut ini : “Jangan biarkan sesuatu yang TIDAK BISA kita kerjakan mengganggu apa yang BISA kita kerjakan”.

    Aku yakin teman-teman yang lainnya pasti juga pernah mengalami kegagalan dalam berbagai hal. Memang, ketika kita sedang mengalami kegagalan, mungkin kita akan merasa kecewa, sedih, down, bahkan bisa membuat diri kita menjadi minder di hadapan orang lain. Namun kuncinya ada pada diri kita sendiri. Jika kita yakin bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan, maka kita tidak perlu takut apalagi menyalahkan Tuhan. Justru saat-saat seperti itulah kita harus lebih dekat dengan Tuhan agar iman kita dikuatkan. Kita harus percaya bahwa Tuhan selalu menolong tepat pada waktunya dan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatNya.

    Dan detik ini juga, aku akui akupun juga pernah minder, pernah kecewa, pernah down, pernah putus asa bahkan sempat kehilangan semangat sampai pada akhirnya banyak waktu yang aku buang dengan sia-sia. Namun seperti judul notes ini : Kalau GAGAL, cepatlah BANGKIT!, saat itulah aku belajar menerima kekalahan-kekalahan kecil demi menanti dan mendapatkan sebuah kemenangan BESAR.

    Jangan takut untuk maju,
    Jangan takut untuk mencoba lagi,
    Jangan takut untuk memulai sesuatu,
    Jangan takut untuk mempelajari hal baru,
    Jangan takut untuk menjadi pribadi yang berbeda.
    Karena tanpa perubahan, berarti hidup kita tidak benar-benar “HIDUP”.


    #Berpose dengan salah satu murid sekolah minggu. Kompak yah! :)

    Minggu, 23 Oktober 2011

    Terima Kasih Facebook

    Berterima kasihlah kepada Mark Zuckerberg yang telah menemukan situs jejaring sosial bernama FACEBOOK. Yup, facebook yang setiap harinya hampir selalu menyita waktu kita hanya untuk update status, upload foto-foto terbaru, ganti foto profil, posting catatan baru, mencari info sebanyak-banyaknya tentang gebetan baru, gonta ganti status hubungan, pamer kemesraan bareng pacar, ada juga yang selalu rajin mengikuti perkembangan sang mantan. Ehm, pokoknya facebook itu emang nggak ada matinya. Bisa dibilang, facebook adalah sarana katarsis bagi setiap orang. Tanpa disadari kita bisa betah di depan komputer, laptop, atau handphone selama berjam-jam hanya karena facebook. Sampai-sampai lupa makan, lupa mandi, lupa ngerjain tugas, dan lupa ngerjain skripsi. Hmm…kayak siapa ya? (kayak yang nulis).

    Mungkin ada beberapa dari kita yang memanfaatkan facebook sebagai sumber refreshing dari segala kepenatan, kebetean, dan rasa kesepian. Tapi tahukah kamu? Menurut pengalamanku pribadi, aku malah bisa tambah bete kalau lagi buka facebook pas lagi bete. Kenapa? Karena disaat bete emosiku pasti tidak stabil dan saat itulah perasaanku menjadi lebih mudah terganggu oleh hal-hal yang sebetulnya tidak perlu ditanggepin secara serius. Intinya, aku jadi gampang sensitif. Misal, kalau keadaan lagi stabil aku bakal ketawa-ketawa sambil geleng-geleng kepala melihat kekonyolan si mantan pacar yang sedang berusaha deketin cewek-cewek ababil, aku bakalan bersyukur banget karena udah putus sama dia. Namun kalau lagi nggak stabil, cuma lihat kayak itu aja rasanya jadi pengen marah, bisa dibilang aku sedikit cemburu (cuma sedikit sih, gengsi lah), kadang bisa ngrasa sedih dan nyesel karena udah mutusin dia, merasa kalah oke dari cewek-cewek ababil itu. Hahaha… sumpah, pemikiran yang dangkal banget! Pernah, gara-gara lagi labil aku menantang diriku sendiri untuk puasa facebook selama 1 minggu. Rasanya puas banget ketika bisa survive dan bisa melawan diri sendiri untuk tidak membuka facebook selama 1 minggu. Untunglah sekarang udah nggak terlalu kecanduan facebook karena kebetulan koneksi GPRS HP nexian she-ku juga lagi error. So, rasanya sedih tapi seneng. Sedih karena HP error, seneng karena mau nggak mau aku bisa ngerem untuk buka facebook.

    Seru juga ketika sedang baca-baca status dari temen-temen, ada yang suka memberikan motivasi, ada yang suka ngomel-ngomel sendiri, ada juga yang merasa bahwa Tuhan itu punya facebook, lalu ada juga yang selalu memenuhi dindingnya dengan status-status penuh cinta. Semua itu wajar dan manusiawi. Akupun pernah melakukannya. Namun terkadang ada juga yang suka menuliskan masalah pribadinya ke dalam status mereka sehingga hal itu menjadi konsumsi publik. Yang tadinya nggak tahu jadi tahu, yang tadinya tahu jadi tempe. (Loh?)
    Ada juga yang selalu nulis kata-kata kotor dan kasar di statusnya. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Banyak terdapat luapan emosi disitu, emosi sih boleh tapi jangan berlebihan. Karena secara tidak langsung, mereka justru sedang menghancurkan image mereka sendiri dengan kata-kata yang tidak berguna itu. Sayang sekali kan? Ada juga yang saling menyindir di status masing-masing, berantem di dinding dan status teman dengan kalimat yang tidak berpendidikan, saling mempertahankan ego masing-masing. Seketika itu kecantikan dan kegantengan mereka menjadi tidak ada artinya lagi.

    Kalau aku paling seneng buka catatan/notes milik temen-temen, ada banyak hal yang bisa kita dapatkan disitu. Pengalaman hidup, opini, tips-tips, cerita humor, lirik lagu, sampai resep makanan. Aku juga seneng baca-baca blog milik temen. Ternyata kita bisa mendapat banyak hal dan pengetahuan dari situ.

    Aku bersyukur karena facebook nggak kayak friendster. Kalo di friendster bakal ketahuan ketika kita mengunjungi friendster milik teman. Si pemilik akun bisa ngecek siapa-siapa aja yang pernah mengunjungi friendsternya. Malu dong kalo ketahuan sang target.hehe. Ketahuan kalau selama ini ternyata aku ngefans ma dia. Apalagi bagi orang-orang model kayak aku ini yang lebih suka mengagumi seseorang secara diam-diam. Hohoho. Untung di facebook nggak dikasih begituan, memang kok si pembuat facebook ini sungguh pengertian.

    Ada juga fenomena yang sering terjadi di dalam pertemanan facebook. Kalau lagi marah, facebooknya langsung diremove, temen-temen deketnya yang nggak tahu permasalahannya juga ikutan diremove. Ntar kalau udah baikan langsung di add lagi. Terus ntar kalo marahan lagi, cepet-cepetan nge-remove lagi. Atau kalo perlu langsung diblokir sekalian. Hoho, segampang itukah membangun dan memutus hubungan pertemanan?

    Aku sering ketawa sendiri kalau baca-baca nama akun fesbuk. Ada beberapa nama pengguna facebook yang penuh sensasional, contoh : x ingin sendiri, x butuhtatihtayang, x maunyasama y, x si bocah tua nakal, x pengen maen odhong-odhong, x anak punk yang tidak doyan sayur. Kira-kira nama alay buat facebookku apa yah? Hmm, mungkin MaiYa enDutTapiImutch. Hahaha…

    Buat closing, Let’s Go! Saatnya menganalisis status seseorang :
    “Hoaamm… habis bangun tidur enaknya makan nih. Tapi makan apa yah? Ada ide?”
    (Wah kayaknya orangnya gendut, hobinya tidur trus tukang makan tapi nggak kreatif soalnya mau makan aja pake nanya-nanya segala)

    “Anjriiitttttt…ttttt… nyebelin bgt sih km! Pkokny Loe, Gue, End!!!”
    (Mesti dulu nilai bahasa Indonesianya kurang bagus soalnya nulisnya nggak sesuai dengan EYD, suka nonton Opera Van Java)

    “Engkau yang sedang kecewa dan kecil hati,
    Jatuh itu biasa, tapi janganlah lama berbaring di situ.
    Bangkitlah, rapatkanlah rahangmu dengan kuat, dan segeralah lakukan yang penting.
    Engkau dapat meningkatkan kualitas hidupmu, dengan meningkatkan kualitas dari cara-caramu.”
    (Wow, super sekali…! pasti suka nonton Mario Teguh yah?)

    Tapi ngomong-ngomong, betul juga loh kata Pak Mario Teguh. :)


    @ foto ala cewe ababil.

    Kamis, 01 September 2011

    Teruslah Berkarya, Be Your Self!


    Senang boleh, namun jangan mudah berpuas diri atas prestasi atau keberhasilan yang sudah pernah kamu dapatkan. Jadikanlah hal itu menjadi pemicu dan semangatmu untuk berkarya lebih baik lagi. Ciptakan perubahan demi perubahan yang berarti dalam kehidupanmu dan teruslah maju untuk mengukir sejarah demi generasimu mendatang.

    Sekilas tentang “buah perjuangan” seorang gadis kecil bernama Galuh Maya Stephani yang belum pandai,yang masih belajar dan ingin terus belajar :

    •Juara II Kejuaraan Nasional Terbuka lomba mewarnai gambar majalah peraga pendidikan “Taman Kanak-Kanak” Tahun 1993.
    •Juara I Mode Show dalam rangka BAZAR KWJ-GKJ Purworejo Tahun 1993.
    •Juara II Festival Nyanyi Lagu Anak-Anak I dalam rangka Hari Anak Nasional & Indonesia Emas Tahun 1995.
    •Juara I Festival Nyanyi Lagu Anak-Anak II dalam rangka Hari Jadi Kota Purworejo Tahun 1996.
    •Juara I Lomba Menyanyi Tingkat SD dalam rangka Malam Pentas Seni SLTP Bruderan Tahun 1998.
    •Juara I Lomba Paduan Suara tingkat Kecamatan Purworejo,
    Juara I Lomba Paduan Suara tingkat Kabupaten Purworejo,
    Juara I Lomba Paduan Suara tingkat Karisidenan,
    Juara Harapan II Lomba Paduan Suara tingkat Provinsi Jawa Tengah, dalam rangka Peringatan Harbenas / Porseni SD Tahun 1999.
    •Peserta Lomba Filateli (PALOMFIL’99) tingkat SD se-Kabupaten Purworejo.
    •Mendapat tanggapan surat + souvenir dari Bapak Direktur Utama PT.Pos Indonesia (Persero) Tahun 1999.
    •Juara III Solo Song Contest Tembang Kenangan dalam rangka Satu Abad GKJ Purworejo Tahun 2000.
    •Konser (biola) bersama Sanggar Nuansa dalam rangka memperingati Hari Ibu Tahun 2004.
    •Juara I Lomba Majalah Dinding Fakultas Psikologi dengan tema : Psikologi Sosial-Anak Jalanan, Tahun 2008.
    •Penampilan tunggal (biola) di Pendopo Bupati Kabupaten Purworejo dalam rangka memperingati Hari Kartini ke-132 Tahun 2011.

    “Sebenarnya ada banyak hal indah yang terdapat disekeliling kita, di kehidupan kita. Ini hanya masalah bagaimana kita melihatnya dan apakah kita mampu mewujudkannya”.

    Mari Berkarya!

    Kamis, 18 Agustus 2011

    My Dream's (part 2)

    1. Menjadi Sarjana Psikologi.
    2. Berwisata ke luar Pulau Jawa.
    3. Punya perpustakaan mini, lengkap dengan meja, kursi, dan standing lamp.
    4. Les Musik di Ahmad Dhani School of Rock.
    5. Menjadi anggota kelompok orkestra di sebuah konser musik.
    6. Menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar.
    7. Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
    8. Meng-homeschooling-kan anak.
    9. Punya rumah dengan desain Adat Jawa lengkap dengan furniturnya.
    10.Bisa nyetir mobil sendiri.