![]() |
| "Jomblo Bukan Berarti Homo" |
Senin, 05 November 2012
Minggu, 21 Oktober 2012
Jurnal seorang vegetarian
Hari ini adalah hari ke-17 dimana aku telah menjalankan diet
vegetarian, lebih tepatnya lagi diet lacto ovo vegetarian. Hari demi hari aku
lewati tanpa ayam, tanpa daging, tanpa ikan dan tanpa pacar. Hmm, kalo yang
terakhir ini urusannya lain.
Menjadi seorang vegetarian apalagi masih pemula, godaannya
banyak. Apalagi ketika ada acara khusus yang mayoritas menunya mengandung bahan
makanan hewani. Harus punya komitmen yang tinggi agar si tangan ini tidak
menyendok lauk pauk yang “bernyawa” itu, kemudian harus tegas kepada diri
sendiri untuk tetap setia menepatinya. Lama-kelamaan hal itu terkondisikan
dengan sendirinya. Hingga pada satu titik aku menemukan bahwa berkomitmen itu
ternyata tidak mudah. (Ini masih berkomitmen dengan makanan belum lagi kalau
berkomitmen dengan pasangan).
Niat menjadi vegetarian bukan semata-mata hanya untuk
mengurangi lemak atau melangsingkan badan namun lebih kepada pengendalian diri.
Aku sengaja menantang diriku ini untuk belajar mengolah emosi dan mengendalikan
diri. Secara, dalam hal emosi aku masih berantakan. Aku mempunyai pemahaman
sendiri, jika kita ingin dimampukan dalam mengatasi kesulitan besar, atau
melakukan hal-hal besar, maka kita harus bisa mengatasi kesulitan, dan
melakukan hal-hal yang dimulai dari skala kecil terlebih dahulu. Seperti
sekarang ini, aku belajar untuk bisa mengendalikan diri serta melawan egoku
dalam hal memilih dan mengkonsumsi makanan. Simpel kan? Dalam majalah Intisari edisi September
2012, juga dijelaskan bahwa menjadi vegetarian bisa membantu mengendalikan
jiwa. Orang yang melakukannya cenderung menjadi sabar dan tidak agresif. Semoga
saja pendapat ini benar.
Aku nggak tahu akan sampai kapan aku menjadi vegetarian,
bisa jadi cuma sampai besok atau mungkin setelah selesai menulis blog ini aku
langsung pensiun dari vegetarian. Aku belum sepenuhnya yakin untuk menjadi
vegetarian sejati, namun sebisa mungkin aku akan mencobanya. Sebisa mungkin.
Kecuali ketika aku benar-benar lupa.
| Tahu Gimbal bikinan D' Pawon - Jogya |
My Dream's (part 4)
- Pengen jadi Duta Wisata / Roro Purworejo
- Pengen belajar ilmu bela diri di sebuah perguruan pencak silat
- Pengen sekolah perhotelan jurusan pastry bakery
- Pengen nulis cerita fiksi (novel)
- Pengen punya kebun sayur dan buah-buahan di samping rumah
- Pengen buka restoran dengan menu vegetarian
- Pengen jadi seorang comic di stand up comedy Indonesia
- Pengen ketemu Raditya Dika (lagi)
Jangan Mati Sebelum Mati
Apa itu kematian? Apakah ada kehidupan selanjutnya setelah mati? Apakah
mereka yang sudah mati bisa melihat kita yang masih hidup? Apakah disana ada
surga dan neraka?
Kematian…
Mungkin kita sering
mengesampingkan hal ini untuk tidak terlalu dipikirkan. Kebanyakan dari kita lebih sering
membicarakan tentang hal-hal yang hidup dan sesuatu yang menghidupi kita yaitu
uang. Sebagian waktu kita habis untuk bekerja mencari uang, untuk belajar giat
supaya bisa lulus, kerja, dan akhirnya mendapatkan uang. Kita terlalu fokus
kepada uang dan hal-hal duniawi. Mungkin dari kita hanya ada beberapa orang
yang mulai memikirkan kematian jika mereka sudah mulai tua, ketika mereka jatuh
sakit, ketika mereka sedang ada masalah besar dan tidak menemukan solusinya.
Rasanya ingin mati saja. Tanpa kita sadari, kita semua sedang berjalan menuju
hari kematian kita masing-masing. Semakin bertambahnya umur, kontrak kita di
dunia ini juga semakin berkurang. Kita semua pasti akan mati, namun tak satupun
dari kita yang mengetahui kapan kita akan mati. “Badan ini dipinjamkan. Setiap tarikan napas,
adalah satu tarikan napas lagi mendekati kematian. Kita harus ngebuat lebih
banyak karya, lebih banyak menikmati hidup, lebih banyak mengambil kesempatan.
Hidup ini cuman sekali. Akan sangat sayang untuk kita buang begitu aja. I have
to enjoy life.” Kata seorang penulis yang saat ini sedang aku kagumi.
Bagaimanakah jika hari esok itu adalah hari kematianmu? Apakah kamu
akan melakukan kebaikan-kebaikan sebelum ajal menjemputmu? Ataukah kamu akan
bekerja sebaik-baiknya di setiap pekerjaanmu? Apakah kamu akan meminta maaf dan
memaafkan orang lain yang pernah menyakitimu? Ataukah kamu akan mengumpulkan
seluruh kerabatmu dan merayakan hari terakhirmu bersama mereka? Mungkin akan
terlihat sangat mengharukan.
Anggaplah setiap harimu itu adalah hari terakhirmu hidup di dunia ini
sehingga semuanya akan terlihat istimewa.
Ketika ayahku meninggal 3 tahun
yang lalu, aku sempat tidak percaya karena beberapa jam sebelumnya beliau masih
berkomunikasi denganku lewat telepon genggam.
Ketika pakdheku meninggal, aku
sempat tidak percaya karena malam hari sebelum meninggal beliau masih sempat
berkumpul bersama keluarga besar di kediamanku.
Ketika tetanggaku meninggal, aku
sempat tidak percaya karena baru kemarin aku menjenguk beliau di rumah sakit
dan kami sempat mengobrol disana.
Ternyata, kematian seseorang itu
adalah sebuah misteri. Kita tidak tahu kapan giliran kita dipanggil olehNya.
Kalau disuruh milih, pasti kita
semua ingin mati dengan anggun. Mati di tempat tidur yang hangat, tanpa rasa
sakit, dan tidak merepotkan orang lain. But,
who know’s?
Disaat kita mati, hanya ada satu
hal yang akan diingat oleh orang lain, yaitu hal-hal yang pernah kita perbuat
kepada mereka. Entah itu hal baik atau hal buruk. Sekarang tergantung kitanya,
ingin dikenal sebagai seorang yang baik atau seorang yang buruk?
Dan aku yakin suatu hari nanti
aku pasti akan mati, dan sebelum aku benar-benar mati aku ingin membuat
“sesuatu” yang tidak akan pernah mati…apapun itu. Sesuatu yang akan selalu
hidup dan terus melekat di hati.
Jangan mati sebelum mati
Buatlah hidupmu berarti
Hidup yang berarti adalah hidup yang dinikmati tanpa ketakutan,
kebencian, dan kesedihan.
Ayo, bangkit dan hidup!
Cowo Matre ke Laut Aje…
Aku heran dengan sebuah lirik
lagu yang bunyinya : cewe matre, cewe matre, ke laut aje…
Hellowww,, emang cewe doang yang
doyan matre? Cowo-cowo juga ada yang matre kale… Lebih parah malah. Seriusan.
Ini adalah secuil kisah tentang cewe
biasa yang sedang mencoba-coba menjadi cewe matre. Namun ia telah gagal dengan
sukses! Kalian tahu kenapa? karena sang target alias si cowo yang telah menjadi
pacarnya itu ternyata lebih matre! Kasian yah dia, sungguh malang nasibnya. Untung bukan aku yang
ngalamin kenyataan pahit seperti ini. Beneran, untung bukan aku.
Berikut ini adalah hasil
wawancara langsung dari tim reporter dengan si cewe matre.
Reporter : Hallo mba, selamat pagi
Cewe matre : pagi
Reporter : saya ikut sedih mba atas kejadian malang yang baru saja mba alami
Cewe matre : kejadian yang mana yah mba? (perlu diketahui bahwa si cewe
matre ini memang sedikit lemot)
Reporter : halah, kejadian yang seumur-umur baru mba temui dalam
kehidupan perpacaran itu loh mba… kan
mba pernah curhat sama saya. Makanya saya tertarik untuk mengupas berita ini
secara mendalam, agar nantinya bisa saya masukan ke sebuah blog ababil dengan
judul : Cowok Matre ke Laut Aje…. Gimana mba, mau kan saya wawancarai? Tenang aja ada tip nya
kok.
Hening
Reporter : Hmm, Katanya matre? Mana jiwa ke-matre-anmu?
Tunjukkin dong…
Cewe matre : Oww, hahahaha…
Iya-iya saya ingat sekarang! Ya udah saya mau deh mba… tapi inget, nama saya
harus disamarkan loh yah… saya kan
malu. Ini aib mba bukan prestasi.
Reporter : Iya..iya..beres deh, bisa diatur. Ya udah, sekarang
saatnya mba cerita tentang perjalanan cinta mba dengan si cowo yang katanya
matre itu yah. Oke, Siap? ini tape
recordernya udah saya nyalain.
1..2..3.. CLICK!
Begini mba, ini merupakan
pengalaman pacaran saya yang paling absurb sedunia, yaitu punya pacar matre nan
komersil udah gitu pelit pula. Salah saya juga sih terlalu cepat untuk
meng-iya-kan serangan “kamu mau nggak
jadi pacarku?” yang tiba-tiba dia ungkapkan kala itu. Tapi memang bener juga
yah, kalau dari awal niat pacarannya hanya untuk tujuan yang nggak baik pasti
hasilnya jadi nggak diridho’i sama Yang di Atas.
Proses pedekate kami cukup
singkat, dan mungkin saat itu saya hanya mengalami emosi sesaat. Dimana sudah
merasa menjadi jomblo lapuk eh tiba-tiba ada yang nembak, tajir pula. Tanpa
berpikir panjang, akhirnya saya mencoba meninggalkan masa lajang. Sumpah,
ternyata nggak semanis yang saya pikirkan. Kalau narkoba itu nggak dilarang,
pasti saya udah OD tiap hari buat ngilangin stress. Jujur sejujur-jujurnya saya
nggak tahan dengan pacar yang satu ini. Mengingat pacar-pacar saya yang
sebelumnya, orangnya amat sangat dermawan, nah giliran pacaran sama yang ini,
walah mba…mba… hampir semua obrolan disangkut pautkan sama yang namanya angka.
Kalau disuruh milih, masih mending dengerin pelajaran matematika deh, daripada
dengerin dia ngomong.
1. Pas lagi ketemuan, saya mengeluarkan HP yang
unyu2 dan terlihat mahal (cuma kelihatannya aja yang mahal),saat itu saya lagi
mau sms teman. Tiba-tiba dia bilang “Wah HP kamu lucu yah, berapa duit
belinya?” Saat itu respon saya biasa-biasa saja dan saya jawab apa adanya, saya
masih belum menyadari bahwa pacar saya ini termasuk orang berbahaya yang harus
segera dimusnahkan dari muka bumi ini.
2. Pas lagi nonton film di bioskop, dia yang
bayarin tiketnya. Sutra lah…orang dia yang ngajakin. Tiba-tiba dia nawarin
saya, “Mau pop corn nggak?” kedengarannya merdu sekali. 5 detik kemudian
nadanya berubah menjadi sumbang : ”Nggak usah aja yah, ngirit!”
3. Lalu pas selesai nonton dia ngajakin saya makan
malem bareng. Sayanya udah ke GR an aja, kirain mau diajak ke restorant
terkenal, atau café2 romantis yang full
music, eh nggak tahunya dia menawarkan option
tempat makan yang nggak saya sangka sama sekali. Tahu nggak dimana? di WARTEG
alias WARUNG TEGAL. Wkwkwkwk. Saat itu saya bingung harus ketawa sekencang2nya
atau nangis sekeras2nya. Sungguh ironis. Seorang anak orang “the have” yang
bisa dibilang selalu tercukupi kebutuhannya, bisa2nya nraktir gebetannya di
warung tegal. Nggak keren banget ah. Dia lagi ngetes saya atau gimana sih?
Kalau ini ibarat ajang pemilihan jodoh seperti di Casanova, pasti saya adalah
peserta pertama yang langsung mengundurkan diri. Saya jadi ragu, jangan2
sebelumnya dia nggak pernah kencan ma cewek kali yah, masa nggak punya
inisiatif sedikitpun untuk memberikan servis terbaik untuk gebetannya? Apalagi
untuk seorang cewek macam saya ini? maksud saya cewe yang doyan makan gini,
paling enggak asupan gizinya harus tercukupilah dan hatinya harus selalu
senang.
4. Pas lagi jalan-jalan saya punya inisiatif buat
traktir dia makan, kebetulan saya barusan dapet rejeki. Selesai makan dia
tanya, “Tadi makannya habis berapa semuanya? Ayamnya tadi harganya berapa?
Kalau es teh nya berapa?” Sepertinya sepele sih, tapi nggak tahu juga yah
kedengarannya agak risih aja di kuping.
5. Lalu suatu hari dia pernah curhat tentang kaos
kakinya yang hilang di laundry. Dia bilang kaos kakinya itu bermerek dan
harganya sekitar 20rb sepasang. Padahal yang ilang 2 pasang, “Yah, berarti aku
rugi 40rb dong” kata dia penuh sesal. Mendengar hal itu, perut saya langsung
bergejolak, ingin hati muntah di depannya. Tapi niat itu saya urungkan, kuatir
aja tiba-tiba dia bilang : “Waduhh, kamu ini apa-apaan sih muntah di depanku.
Sepatuku jadi kotor tauk. Kamu tahu nggak harga sepatu-limited-edition-ku ini
berapa? Buat beli sepatumu palingan bisa dapet selusin!”
6. Dia juga cerita kalau dia itu keturunan
bangsawan, katanya masih ada keturunan ningrat. Hello, please deh, saya aja
yang sejak lahir udah dapet gelar Raden Roro rasanya biasa aja tuh. Terbeban
malah, karena secara nggak langsung kita harus bisa menjaga sikap, bertutur
kata yang baik, memegang prinsip, bisa membawa diri, dan tetap berwibawa. Untuk
melakukan semua itu nggak gampang Sob. Eh, dianya malah enteng banget ngomong
gitu, nggak ngaca kelakuannya kayak apa. Sorry, jadi sedikit emosi. Lanjut.
7. Kemudian pernah dia lihat ada mobil yang di
parkir di kos-kosanku, kebetulan sama dengan mobil nyokapnya, avanza punya. Dia
bilang kirain itu mobil punya nyokapnya eh ternyata bukan, karena plat nomornya
beda. So what? Terus gue harus bilang “WOW” gitu? Sambil koprol gitu?
Jelas-jelas bukan, eh masih aja dibahas. Semakin nggak simpatik.
8. Terus pernah juga dia tanya tentang hal yang
agak pribadi, dia tanya tentang jumlah honor yang saya dapat dari kerja
sambilan. Penting ya? Ketika saya nggak mau kasih tahu, dia bilang, “Ih masa
sama pacarnya sendiri nggak mau kasih tahu sih? Ayolah, kasih tahu lah…” sambil
memohon-mohon. Jijik nggak sih? Kalau di film kartun, kepala saya pasti udah
muncul tanduknya.
9. Terus pernah suatu hari dia menanyakan bisnis
orangtua saya. Apakah masih berjalan atau enggak. Ehmm, maksudnya apa coba
tanya2 gitu? Mungkin mau nglamar jadi
pembantu kali ya?
10. Pernah juga tak beliin ice cream Magnum, sempet2nya
dia tanya harganya berapa? Udah jelas2 kalau harganya 10rb, nenek gaul aja juga
tahu. Eh masih aja nanya. Padahal dia juga pernah cerita kalau kapan hari
barusan beli magnum. Apa dia nggak inget yah kalau pernah cerita gitu ke saya?
Saya cuma jawab : “Hayo tebak, harganya berapa hayo?” Nada bicaraku lebih mirip
kayak ngobrol sama anak TK ingusan. Sambil menghela nafas menahan emosi. Eh,
tahu2 dia bisa jawab : “10rb!” Trus aku bilang : “Ich, kamu pinter deh!” Lama-lama
saya merasa seperti orang tolol. Udah nggak cocok, masih aja dicocok-cocokin. Saya
rasa hubungan kami sudah mulai nggak sehat karena penuh dengan kemunafikan,
nggak apa adanya, dan basa basi. Sampai akhirnya jadi basi banget.
11. Terus dia juga pernah ngecek isi dompet saya,
tapi nggak sampe ngitung uang saya sih, dia cuma nemu struk ATM saya, trus dia melihat
saldonya, “Haah uangmu tinggal segini? Emang buat beli apa aja?” kata dia penuh
kaget. Biasa aja deh mas mukanya, kata saya dalam hati. Jujur, saat itu saya
bingung mau jawab apa, orang uang saya setiap harinya juga memang segitu thok, pas-pasan
aja. Mungkin dia kecewa kali ya karena ekspektasinya selama ini meleset.
12. Terus pernah suatu hari dia bilang kalau lagi
seneng banget melihara binatang, antara lain burung kutilang. Dia bilang ke
saya: “Mau nggak patungan buat beli burung lagi?” What?!!!Apah!!!! Buat beli
burung, aku harus patungan? Apa-apaan coba? NO!NO!NO! TIDAK BISA! Saya akhirnya
bisa menjawab tegas.
Dari
pengalaman ini saya bisa mengambil hikmahnya yaitu : Punya pacar anak orang
kaya itu nggak menjamin hidup kita menjadi bahagia. Yang ada saya malah jadi
stress! Stress tingkat dewanya dewa. Dan akhirnya hubungan kami hanya bertahan
2 bulan. Bisa bertahan 2 bulan aja udah termasuk hebat banget coyy. (2 bulan
serasa 2 abad…luamaa bangett).
Ternyata
survey membuktikan bahwa saya tidak berbakat menjadi cewek matre, yang ada
pacar saya jauh lebih matre. Akhirnya saya berniat untuk kembali ke jalan yang
benar. Gitu mba reporter… kasian ya saya ini.
Reporter
: wah, seru juga yah pengalaman mba… Btw, ada rencana mau balikan lagi nggak
nih?
Cewe
Matre : Balikan lagi? Oww, tentu... TENTU
TIDAK! Mending saya ke laut aje deh mba daripada harus balikan lagi sama dia.
Nah,
demikianlah pengakuan si cewe matre bernasib malang pada episode kali ini. Kasian bener
ya, pasti dirinya sangat terpukul menerima kenyataan ini. Sebagai penulis yang
memiliki jiwa empati yang tinggi, aku juga ikutan sedih loh sampai-sampai aku
bisa merasakan apa yang sedang dirasakan si cewe matre itu.
Hmm,
kenapa aku tiba-tiba jadi peduli kayak gini ya?
Emang
masalah buat gue?
Senin, 08 Oktober 2012
Lacto Ovo Vegetarian
Kira-kira apakah ada keterkaitan antara novel perahu kertas,
acara sekolah minggu, dosen favorit, dan berkunjung ke rumah pakdhe?
Sepertinya tidak.
Namun, bagiku ternyata iya.
Aku bilang keempat hal tersebut saling berkaitan dalam mengubah mindsetku terhadap pola makanku selama
ini.
Berawal dari ketertarikanku dengan sebuah novel yang
berjudul Perahu Kertas karya Dewi Lestari. Isinya sangat kaya akan seni, cinta
kasih, persahabatan, dan kesetiaan. Aku sampai bertanya-tanya dalam hati, kok
bisa yah penulisnya bikin cerita se-keren & se-unik ini? kira-kira makanannya
apa yah? Kedengarannya agak nggak nyambung sih, memang. Karena penasaran,
kemudian aku search di google dengan
kata kunci Dewi Lestari, setelah itu aku baca profilnya, terus ujung-ujungnya aku
dapet deh alamat blognya. Aku baca tulisan-tulisan Dewi disitu. Wow, inspiring banget! Dan akhirnya aku
menemukan fakta bahwa ia adalah seorang vegetarian!
Minggu lalu, di gerejaku ada acara pembinaan guru sekolah
minggu. Kebetulan dalam kepanitiaan, aku menjadi seksi konsumsinya. Ada salah satu kakak
sekolah mingguku bertanya kepadaku tentang menu yang akan disajikan pada hari H
nya. Aku jawab aja kalau menunya ayam goreng tepung. Ternyata dia memberikan
pernyataan bahwa dia nggak bisa makan ayam, bukan karena dia alergi ayam
melainkan karena dia adalah seorang vegetarian!
Di fakultas psikologi, aku mempunyai dosen favorit. Sebut saja Mr. A. Pembawaannya yang tenang
dan ramah membuatku semakin mengaguminya. Hampir setiap pagi beliau selalu
sarapan pagi di warung burjo belakang kampus. Kenapa nggak di warung makan yang
lainnya saja? tentunya akan lebih banyak variasi makanan disana. Ternyata
kebiasaan Mr. A mengkonsumsi bubur kacang ijo tak lain dan tak bukan karena
beliau adalah seorang vegetarian!
Ditambah lagi, 1 bulan yang lalu aku berkunjung ke rumah
pakdhe yang ada di Jogya. Kebetulan pakdheku ini juga seorang vegetarian! Aku
salut karena beliau sangat hati-hati dalam menjaga kesehatannya.
Wah kenapa yah akhir-akhir ini aku merasa akrab banget sama
yang namanya “vegetarian”?
Karena penasaran, aku langsung cari tahu informasi tentang
vegetarian. Ternyata vegetarian ada banyak jenisnya, teman-teman bisa
membacanya disini.
Setelah dipikir-pikir dan tanpa bermaksud untuk ikut-ikutan,
akhirnya aku memilih untuk mencoba menjadi seorang Lacto Ovo Vegetarian. Hal ini aku lakukan atas nama kesehatan. Tipe
diet vegetarian jenis ini merupakan jenis yang paling aman karena kebutuhan
protein tubuh, yaitu asam amino esensial bisa diperoleh dari telur, susu, dan
turunan produk susu. Jadi meskipun tidak mengkonsumsi daging-dagingan, diet ini
masih boleh mengkonsumsi telur dan susu. Setelah membaca dari beberapa sumber, ada
banyak manfaat menjadi vegetarian, antara lain dapat mengurangi resiko kolesterol
tinggi, jantung koroner, asam urat, hipertensi, diabetes, dan kanker.
Penyakit-penyakit ini biasanya dipicu oleh pola makan tinggi lemak hewani.
Menjadi vegetarian itu butuh proses
Pengalaman pertama menerapkan hal ini masih terasa canggung
dan aneh, mungkin karena belum terbiasa. Seperti halnya ketika sedang memesan
Cap Cay.
Aku yang dulu : “Pak, ayamnya yang banyak yah!”
Aku yang sekarang :”Pak, capcaynya nggak usah pake ayam,
bakso, sama sosis ya Pak. Pokoknya sayuran aja”.
Kedengarannya konyol sekali dan sok-sokan banget! Hahaha.
Sok kuat nggak makan ayam padahal ayam termasuk makanan favoritku sejak kecil.
Pernah juga ketika sedang membeli lutis buah, aku pesan
supaya bumbunya jangan pake terasi. Disitu ada banyak bumbu lutis yang udah
dikemas di dalam plastik, tinggal ambil aja biar cepet. Namun berhubung
bumbunya mengandung terasi semua, jadi bapaknya berbaik hati untuk
membuatkannya kembali, tanpa terasi. Special
for me… Thankyu Pak! :)
Sekedar kilas balik aja, dulu sewaktu aku masih kecil aku
paling anti terhadap sayuran. Kalau makan sayuran pasti langsung muntah.
Orangtuaku dan pembantu di rumah sering menyiasatinya dengan menyembunyikan
sayuran itu didalam nasi ketika akan nyuapin aku. Meskipun akunya nggak tahu,
namun lidahku sangat tahu. Langsung aja deh reflek, makanannya aku lepeh semua.
Sayang kan… ?
Udah agak besar dikit, aku sering dimarahin orang tua karena
tetep nggak mau makan sayur. Untung aku suka minum susu jadi asupan vitaminnya
bisa sedikit tertolong. Orangtuaku pernah bilang bahwa aku harus bisa belajar makan
sayur. “Bagaimana nantinya kalau kamu sedang bertamu di rumah orang, terus
disuruh makan dan ternyata yang ada cuma sayuran aja? Mau nggak mau kamu harus
makan sayuran itu. Kalau nggak mau makan, berarti kamu sama aja nggak
menghargai mereka”. Kurang lebih seperti itulah nasehat dari orang tuaku. Waduh,
tantangan besar buat aku nih. :(
Sedikit demi sedikit aku berusaha menunjukkan ke orangtuaku
kalau aku mampu makan sayuran meskipun saat itu rasanya pengen muntah. Terutama
kalau sama daun seledri. Huft… mau nelan aja rasanya susah banget. Mataku
sampai berair, keringat dingin muncul seketika. Aneh ya. Aku sendiri juga
heran.
Dewasa ini, aku sudah lumayan banyak mencoba mengkonsumsi
berbagai jenis sayuran yang dulunya menjadi momok buat aku. Malahan sekarang
sok-sokan pengen jadi Lacto Ovo Vegetarian. Ini masih tahap percobaan lho ya,
belum sampai selamanya. Meskipun begitu, tetap ada niatan serius untuk bisa
melanjutkannya.
Kalender duduk yang terdapat di kamarku langsung aku beri
tanda huruf “V” di setiap tanggalnya ketika aku berhasil melalui hari itu tanpa
mengkonsumsi makanan yang bernyawa alias daging-dagingan. Rasanya puas banget
ketika bisa mengendalikan diri sendiri, ketika bisa menerima dan mengikhlaskan bahwa menu yang ada di piring saat ini, tampilannya
tak seperti dulu lagi. Secara tidak langsung, aku juga bisa belajar lebih menghargai dan mensyukuri apa yang aku makan.
Di sisi lain, ada perasaan seneng ketika bisa membantu
mengurangi pemanasan global yang meresahkan penduduk bumi. Menurut sumber
terpercaya, industri peternakan menjadi salah satu penyebab pemanasan global di
bumi dan juga menyumbang polusi yang cukup banyak, khususnya polusi udara.
Selain pemanasan dan polusi yang dihasilkan dalam industri, polusi juga
dihasilkan dari proses pembuatan makanan bagi hewan.
Logikanya, jika orang-orang di dunia ini mengkonsumsi banyak
daging-dagingan, maka nilai permintaan pun akan semakin banyak, hal itu berimbas kepada nilai produksinya yang secara otomatis akan semakin banyak pula. Nah kalau tingkat produksinya
semakin banyak maka pemanasan dan polusinya pun akan semakin luas.
Terlepas dari hal itu, aku juga ingin menyinggung sedikit tentang
maraknya penggunaan kantong plastik yang sering kita temui di pasar dan
supermarket. Hal ini juga dapat memicu pemanasan global. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun
untuk melenyapkan plastik-plastik yang penggunaannya sudah overload itu. Untuk meminimalisir global warming, setiap belanja di pasar, kita
tidak perlu meminta plastik kepada si penjual tetapi kita bisa membawanya
dengan menggunakan tas yang sudah dipersiapkan dari rumah. Jika barangnya
sedikit, mungkin kita bisa langsung membawanya dengan tangan. Itu akan jauh
lebih baik.
Intinya, setiap orang pasti mempunyai cara tersendiri untuk
menyelamatkan dirinya dan juga buminya. Begitu pula denganku.
Bagaimana denganmu? :)
Selasa, 11 September 2012
Call for Paper
Kali ini gueh harus bilang :
“Ikutan Call for Paper yukk, Seru loh!”

Berbekal ilmu psikologi yang tidak seberapa, pada tanggal 20 Juni 2012 aku
nekat berpartisipasi sebagai penyaji call
for paper dalam acara kegiatan Temu Ilmiah Psikologi Nasional 2012 yang
diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana di Grand Wahid Hotel Salatiga. Di
sana aku bertemu dengan para penyaji lainnya, mereka adalah dosen dan mahasiswa
dari Universitas Persada “YAI” Jakarta, Universitas Udayana (Bali), Universitas
Kristen Krida Wacana (Jakarta), dan Universitas Kristen Satya Wacana
(Salatiga). Mereka semua luar biasa! Puji Tuhan, sesi presentasi dan tanya
jawab yang aku bawakan dapat berjalan dengan lancar. Ini semua berkat
penyertaan Tuhan Yesus Kristus yang sangat baik dan dukungan dari ibu dosen serta teman-teman yang
setia membantuku dalam proses penyusunan paper.
Apa itu Call for Paper?
Call for paper merupakan kegiatan mempresentasikan hasil
penelitian, artikel ilmiah, maupun rancangan penanganan/intervensi sesuai
dengan tema yang ditentukan. Kebetulan tema dalam call for paper ini adalah
“Identifikasi Psikologis Pada Anak Usia Dini”. Call for paper ini bertujuan untuk memfasilitasi kebutuhan para
peneliti dan penulis artikel ilmiah yang berkaitan dengan Psikologi Anak Usia
Dini di seluruh Indonesia
untuk menuangkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
Ajang ini juga dapat menjadi arena diskusi ilmiah untuk mengatasi berbagai
persoalan mengenai anak usia dini.

Selain bisa mempresentasikan hasil
belajar yang dikemas menjadi sebuah paper, manfaat lainnya adalah bisa mendapat banyak informasi tentang hasil penelitian-penelitian yang
dibawakan para penyaji lainnya, mendapat teman/kenalan baru, belajar untuk berani
ngomong di depan banyak orang, belajar berpikir dan merangkai kalimat ketika sesi tanya jawab, serta belajar
menemukan suatu gagasan baru untuk menyempurnakan penelitian-penelitian yang disajikan.
Seru deh pokoknya, walaupun sempat deg-degan juga sih. Maklum baru perdana ikut
begituan. Oiya, ikut call for paper juga dapat membekali kita saat pendaftaraan S2 loh.
Sebagai penutup, aku cantumkan abstrak paperku di bawah ini. Bagi teman-teman atau siapa saja yang berminat untuk
mempelajarinya atau sekedar ingin sharing tentang hal yang berkaitan
dengan paperku ini, bisa kirim email ke mayastephani88@yahoo.com
MEMPREDIKSI KESULITAN ASESMEN BERDASARKAN INTERAKSI TESTER-KLIEN
DALAM 5 MENIT PERTAMA
Galuh Maya Stephani
Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana
Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga 50711
ABSTRAK
Assessment merupakan alat untuk mengenal seseorang atau klien dalam
tempo yang relatif cepat, objektif, dengan metode standar, sehingga dapat
diperoleh hasil yang seakurat mungkin dan dapat dipertanggung jawabkan
(Sembiring, 2010). Guna mempermudah assessment,
seorang tester membutuhkan informasi di awal untuk memprediksi klien dan
mempersiapkan strategi selanjutnya dalam sesi pemeriksaan psikologi. Maka dari
itu, penelitian ini dibuat untuk memprediksi klien dengan melihat kemampuan
interaksi sosialnya pada situasi 5 menit pertama ketika berkenalan dengan
tester. Data penelitian ini diperoleh dengan metode observasi.
Hasil penelitian yang didasarkan
pada 4 indikator dalam interaksi 5 menit pertama yaitu tatapan mata, menjabat
tangan, menyebutkan nama, dan mendekat ke arah tester menunjukkan bahwa
partisipan penelitian yang menampilan interaksi yang kurang, ternyata juga
bermasalah dalam sesi pemeriksaan psikologi. Masalah-masalah yang muncul antara
lain mau menang sendiri, sulit mendengarkan arahan dari tester karena tertarik
dengan benda lain, dan sulit mengkomunikasikan jawaban tes. Hal-hal tersebut
membuat sesi pemeriksaan psikologi menjadi tidak efektif dan adanya masalah
pada waktu. Sedangkan yang menampilan interaksi yang cukup, tidak ditemukan
masalah yang demikian pada sesi pemeriksaan psikologi. Untuk mengatasinya,
seorang tester perlu memiliki keahlian dalam hal merayu anak.
Kata kunci : kesulitan asesmen,
interaksi tester-klien

Selamat Belajar! :)
Langganan:
Postingan (Atom)


