Kamis, 28 April 2016

Berkunjung ke Pemerahan Susu Sapi "Tepo Seliro"


Di hari yang cerah, saya bersama sepupu dan beberapa temannya, berkunjung ke sebuah tempat pemerahan susu sapi bernama “Tepo Seliro” di daerah Banyurip, Purworejo. Tujuan kami kesana adalah untuk meliput beberapa kegiatan & mewawancarai si pemilik tempat pemerahan susu sapi tersebut. Disamping itu kami juga belajar dan praktek langsung tentang bagaimana memerah susu sapi dengan cara yang benar. 

Tepo Seliro berdiri sejak tahun 1951. Hingga saat ini, Tepo Seliro dikelola dengan baik oleh bapak Ir. Paulus Bambang Santoso. Menurut keterangan beliau, jumlah sapi yang ada disana ada 28 ekor, sedangkan jumlah karyawannya ada 6 orang.

Pemberian Pakan
Dalam proses pemeliharaannya, proses awal yang dilakukan adalah memandikan sapi-sapi, kemudian pembersihan kandang. Setelah itu dilanjutkan proses pemberian pakan (komboran). Bahan yang perlu disiapkan untuk membuat komboran antara lain sebagai berikut :
1. ampas tahu
2. katul
3. gandum
4. ampas kecap
5. garam
6. air
Semua bahan di atas dicampur jadi satu, diaduk hingga merata. setiap 1 sapi mendapatkan jatah 1 ember makanan.

ember berisi ampas kecap

alat penghancur ketela
bahan makanan dicampur menjadi satu
"Yummy... Enak!"

Proses Pemerahan 
Setelah sapinya kenyang, proses berikutnya yaitu memerah susu sapi. Sapi akan menghasilkan banyak susu ketika kondisi disekitarnya dapat membuat mereka tenang dan nyaman. Setelah itu kandang akan dibersihkan kembali oleh para karyawan.


pemerahan susu sapi dimulai

belajar memerah sapi
Supaya mempermudah proses pemerahannya, bagian puting susu pada sapi biasanya dioleskan sedikit margarin. Biasanya, para karyawan akan mengikat ekor sapi supaya tidak mengganggu ketika proses pemerahan berlangsung.

Proses Pengemasan  
Susu sapi yang sudah disterilkan, kemudian dikemas ke dalam plastik ukuran tertentu dan dipress menggunakan mesin supaya mutunya tetap terjamin. Untuk rasa susunya, ada berbagai varian antara lain  anggur, coklat, strawberry, melon, dan original.

alat penakar susu sapi
packagingnya keren!
 susu sapi berbagai varian rasa 

Berpose Bersama Sapi
Di akhir pertemuan, saatnya foto bersama sapi-sapi yang unyu dan menggemaskan! ^_^





Moooooo......!!

Rabu, 27 April 2016

Biarlah Seni yang Berbicara #part 7

sedih

bangga

menyesal

semangat

marah

kesepian

iri

takut


Minggu, 20 Maret 2016

Bintitanus Timbilengitis




.

Yap, pada akhirnya gue dianugerahi penyakit Bintitanus Timbilengitis. Penyakit elit yang hanya menyerang orang-orang keren saja. 

Btw, ini bukan penyakit di anus. 

Secara medis, bintitan (timbilen) adalah kondisi ketika bintil menyakitkan yang berbentuk seperti jerawat atau bisul tumbuh di tepi kelopak mata. Sebagian besar bintitan hanya muncul pada salah satu mata. Kondisi ini umumnya tidak berdampak buruk pada kemampuan penglihatan pengidap. 

Nama Bintitanus Timbilengitis sengaja gue ciptakan supaya lebih enak didengar dan nggak malu-maluin amat kalo lagi ditanya orang.

Sebenarnya gue udah langganan penyakit ini sejak kelas 4 SD. Bisa dibilang setiap jenjang pendidikan, mata gue selalu bintitan. Kelas 4 SD – kelas 2 SMP – kelas 1 SMA – kuliah semester 5 – kerja. Nggak tahu kenapa, mungkin gue terlalu keren pada jamannya. 

Gue pernah ngrasain meja operasi sebanyak 3x. Operasi pertama di RS dr. YAP, Yogyakarta. Yang kedua di RS Islam Aisyah, Purworejo. Dan operasi ketiga di RSCM Kirana, Jakarta.
Keren! Berasa tour konser aja nih, udah 3 kota gue jabanin buat ngilangin ‘kutil’ sialan ini.

Gue sering merenung, kenapa sih Tuhan kasih gue penyakit ini?
Penyakit yang nggak seberapa tapi nista banget bagi gue.
Positifnya, penyakit ini bisa berperan sebagai ‘rem’ atau kontrol gue supaya nggak liar-liar amat dalam menjalani arus kehidupan yang penuh dengan godaan.
Negatifnya, gue jadi krisis percaya diri, yang dikit lagi hampir anti sosial. Gimana enggak, tiap hari dibully temen-temen karena mata gue semakin membengkak. Gue nggak berdaya, gue lemah.

Ternyata kebenaran sudah mulai terungkap. Mereka memang kejam.
BAKAR SAJA MEREKA! BAKAR!
Atau kalau perlu,
RACUN SAJA MEREKA! RACUN! LALU BAKAR SAJA MEREKA! BAKAR!
Begitu seterusnya sampai Haji Lulung jadi gubernur Jakarta.

Enggaklah, gue nggak separah itu.

Gue justru mendoakan mereka setiap malam-setiap saat.
Mendoakan, supaya mereka kena bintitan juga.

Okey, itu adalah kisah gue sebelum gue kenal lagunya Sheila On 7 – Lapang Dada.
Ehm, emang ada hubungannya?
Jadi lagu Sheila On 7 mengajarkan gue untuk bisa bersikap lapang dada dalam menghadapi cobaan dan segala hal yang terjadi di muka bumi ini.

“Kau harus bisa bisa berlapang dada.. kau harus bisa bisa ambil hikmahnya”

Waktu kemarin gue antre di ruang operasi, gue sempat ngobrol dengan beberapa pasien disana. Ada pasien yang matanya harus diganti dengan bola mata palsu. Ada pasien yang matanya katarak dan dirinya harus terus menjaga kondisinya karena baru saja menjalankan operasi jantung. Ada juga anak ABG yang mau buka jahitan operasi karena matanya bermasalah. Mendengar hal itu, gue merasa malu. Gue merasa cemen, karena selama ini gue kurang bersyukur. Tuhan masih baik banget kasih gue penyakit yang remeh ini. Bukan penyakit yang aneh-aneh. 

Pada akhirnya dengan percaya diri dan berserah, gue menjalani operasi di ruang tindakan. Gue menikmati setiap detiknya dimana sang dokter menyuntikan obat bius lokal sebanyak 2 kali di kelopak mata gue. Beberapa detik kemudian kelopak mata jadi mati rasa dan dokter segera mengeksekusinya.

Dalam hati, gue mengucapkan ‘say goodbye’ kepada si bintit yang udah pernah singgah di mata gue. Dia itu ibarat mantan. Bikin sakit tapi keberadaannya bikin kita jadi lebih dewasa. *Eaaaa #BAPER  

Selesai operasi, gue ditanya ama suster :

“Mbak, tadi berangkatnya sendirian?  Kok nggak ada yang jemput?”
Gue jawab dengan legawa :
"Iya suster, saya berangkat sendirian. Nanti gampang, pulangnya naik taksi aja". 
Yap..  Sebagai jomblo mandiri, gue sadar betul apa-apa harus bisa sendiri.
Berangkat ke Rumah Sakit sendiri.
Bayar dokter pake uang sendiri.
Nyari ruang operasi sendiri.
Sampai pulang pun sendiri.
Tapi gue yakin, gue nggak sendirian.
Karena Tuhan selalu mendampingi gue buat nyelesain perkara ini. *Ciyeh, mendadak religious. 

And then, Terima kasih buat saudara, teman, dan murid-murid yang sudah menjenguk, bawain bubur babi, nyuapin, membantu, dan kasih semangat ketika gue seharian berasa jadi “Helen Keller”.

Terima kasih juga buat kalian yang sudah menyisihkan seper sekian persen dari waktu hidupnya untuk membaca tulisan ini. 
Terima kasih buat doanya! Gue sekarang udah sembuh dan udah cantik lagi! :*
  
Pesan Moral : “Bintitan bukan akhir dari kehidupan”
Pesan Dokter : “Mata kamu bintitan? Segera obati dengan salep Xitrol!” Jika sakit berlanjut hubungi dokter.






















Kamis, 04 Februari 2016

Biarlah Seni yang Berbicara #part 6

Ucapan Ultah Untuk Ibu
Astronot Indonesia

Chef Maya

Duta Wisata

Lukisan Persepsi

Si Kerudung Merah

Raditya Dika