Senin, 26 Juli 2010

Hadiah Terindah

Sebentar lagi usiaku genap 22 tahun. Tepatnya pada tanggal 31 Juli 2010 nanti. Dalam perjalanan hidupku ini, aku mendapatkan banyak pelajaran berharga baik itu suka maupun duka yang nilainya tidak bisa tergantikan oleh apapun. Tapi aku yakin, semua itu terjadi atas kehendakNya agar aku bisa lebih menghargai arti hidup ini.

Tiba-tiba aku bergairah untuk menulis note ini karena aku baru saja mendapatkan “hadiah” dari Tuhan. Benar-benar tamparan yang keras buat aku ketika aku harus mengetahui bahwa tidak semua yang aku harapan bisa menjadi kenyataan. Tamparan ini membuatku tersadar dari keangkuhanku, kesombonganku, kepicikanku, dan keegoisanku selama ini. Memang benar kata orang, kita tidak akan pernah sadar dan tahu sendiri ketika kita belum mengalaminya.

”Mengapa aku baru sadar sekarang? Kenapa nggak dulu-dulu aja?” kalimat inilah yang selalu membuatku merasa malu dengan diriku sendiri.

Dulu aku terlalu yakin dengan segala sesuatu yang ada di dalam diriku ini, tanpa mau membuka mata dan membuka telinga.

Aku terlalu yakin bahwa apa yang aku pikirkan itu benar.

Aku terlalu yakin bahwa apa yang aku katakan itu benar.

Aku terlalu yakin bahwa apa yang aku lakukan itu benar.

Tapi ternyata, semua yang aku pikirkan, katakan, dan lakukan itu tak selamanya benar.

Sampai-sampai nasehat dari ”orang terdekat” sekalipun tidak mempan untuk mengubah sifat batuku ini.
Aku selalu meremehkan dia, menganggap bahwa semua nasehatnya adalah hal yang tidak penting. ”Hanya menggangguku saja.”pikirku.

Hingga akhirnya, aku sadar bahwa hal yang menggangguku itu benar-benar pergi.
Pergi dan takkan kembali.
Aku rindu mendengar nasehat-nasehat yang pernah menggangguku itu.
Aku rindu diganggu.
Aku rindu dengan nasehat-nasehatmu.
Aku rindu kamu...

Sesuatu yang sudah di depan mata, kenapa aku justru mencarinya di seberang lautan?
Sesuatu yang luar biasa, kenapa aku justru mencari yang biasa diluar?
Sesuatu yang sudah dipermudah, kenapa aku justru mencari yang dipersulit?

Aku tidak ingin menjadi filsuf yang selalu berandai-andai, toh kondisinya juga tidak akan kembali seperti semula.
Aku sependapat dengan Indah Pertiwi ketika menyanyikan lagunya yang berjudul Baru Aku Tahu Cinta itu Apa, semua liriknya mewakili isi hatiku saat ini...


Ada saat mengakui
Kesalahan yang ku buat
Ada saat ku mengerti
Setelah ku kehilangan

Senyummu air matamu
Setiamu dulu ku hancurkan

Baru aku tahu sakit itu apa
Setelah kau bukan milikku
Baru aku tahu cinta itu apa
Setelah kau hapus cintaku
Yang dulu dalam hatimu

Kini saat ku belajar
Menghargai yang ku punya



Satu hal yang aku harapkan di hari ulang tahunku nanti adalah bisa benar-benar membuka mata dan membuka telinga.

Terima Kasih Tuhan, dengan adanya tamparan keras ini berarti Tuhan masih sayang ma aku dan masih memberikan kesempatan buat aku untuk tidak melangkah sendiri melainkan selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatanku.




Senin, 10 Mei 2010

Mungkin...aku ngefans Pak Aloy!

Beberapa hari ini aku menyadari bahwa ada yang aneh dalam diriku. Tulisanku makin lama makin jelek. Aku tidak tahu kenapa, mungkin karena aku kepengen nulis cepat, sehingga tulisan yang dihasilkan menjadi jelek dan disingkat-singkat. Berbeda dengan yang dulu, meskipun agak sedikit lamban tapi tulisanku sangatlah rapi. Banyak orang yang mengatakan bahwa tulisanku enak dibaca dan rapi. Kurang lebih satu setengah tahun ini aku menulis dengan cara cepat dan hasilnya juga tidak serapi dulu lagi.
Aku jadi ingat kata Bapak Aloysius Soesilo. Salah satu klien beliau juga mengalami hal yang serupa denganku. Dulu tulisannya rapi sekali, seperti diberi garis bantu karena saking lurusnya. Namun setelah dia mengalami suatu masalah, tulisannya berubah menjadi kacau, naik turun, dan susah dibaca. Barusan aku juga sempat berbincang-bincang dengan temanku yang kebetulan memiliki teman yang juga mempunyai pengalaman seperti itu. Ketika tersandung masalah dan akhir-akhir ini ada gangguan (kebetulan dia mengalami gangguan halusinasi) tulisannya berubah menjadi jelek, padahal dulu tulisannya bagus dan rajin.
Lah, kalau sekarang ini aku punya gangguan apa dong? Aku nggak pengen punya gangguan. Aku tetap ingin menjadi orang normal. Mungkin kesibukanku yang membuatku menjadi seperti ini. Mungkin juga karena aku kurang bisa membagi waktu dan mengkondisikan pikiranku agar tetap positif dan stabil. Terkadang aku juga mengalami kesusahan berbicara, susah untuk merangkai kosakata, dan terkadang apa yang sudah terkonsep di dalam pikiranku tidak sesuai dengan apa yang aku ucapkan.
Aku pengen suatu saat aku bisa menyempatkan diri untuk berdiam diri, merefleksikan diri mengenai kejadian-kejadian apa saja yang pernah aku alami dan mencoba untuk mengendalikan emosiku, membersihkan pikiranku dari segala beban, pikiran negatif, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, dan sebagainya. Aku ingin menenangkan diri, dan mungkin aku harus benar-benar sendiri tanpa ada orang lain yang mengganggu.
Aku juga pengen menyempatkan diri untuk belajar dan membaca buku-buku yang menurutku bisa membantu untuk membuka wawasanku mengenai banyak hal. Namun sepertinya hal itu juga kurang efektif apabila tidak ada seseorang yang bisa aku ajak diskusi dan bertukar pikiran tentang apa yang aku pelajari.
Mungkin hal-hal tersebut di atas yang antara lain telah mempengaruhi perubahanku saat ini.

Jika dicermati lebih lanjut, daritadi aku selalu menggunakan kata ”mungkin” untuk membuat kesimpulan mengenai ceritaku ini. Aku jadi teringat lagi dengan Bapak Aloysius Soesilo, ia merupakan salah satu dosen Psikologi favoritku (ehm, maaf salah ketik...maksudku bukan salah satu dosen Psikologi favoritku, melainkan satu-satunya dosen Psikologi favoritku karena pada dasarnya aku memang menyukai metode dan cara beliau mengajar.)
Bapak itu mengatakan : ”Oh Maya, mengapa hati nuranimu sangat kecil? Mengapa kamu kurang percaya dengan dirimu sendiri?” Aku baru sadar bahwa aku telah mengucapkan kata ”mungkin” yang menegaskan bahwa aku memang kurang percaya diri. Saat itu aku memang merasa ragu dan takut salah ketika diminta untuk menjawab suatu pertanyaan. Untuk tetap berada di zona aman, aku menggunakan kata ”mungkin” di awal jawaban yang aku lontarkan. Sepertinya aku memang harus membuang jauh-jauh kata ”mungkin” itu.

Pak Aloy, begitulah panggilan akrab beliau. Pak Aloy telah mengajarkan banyak hal yang belum kita ketahui dan sadari sebelumnya. Beliau selalu berusaha untuk menyederhanakan sesuatu yang dianggap sulit untuk bisa dimengerti dan dipahami oleh para muridnya. Aku merasa benar-benar duduk di bangku kuliah sejak diampu oleh beliau. Sayangnya beliau hanya mengajar beberapa mata kuliah saja, coba kalau semua mata kuliah diampu oleh Pak Aloy? Wah pasti aku sangat bersemangat sekali dalam menempuh perkuliahan ini. Bapak itu selalu memberikan pencerahan dan motivasi untuk kami semua. Setiap pagi sebelum perkuliahan dimulai, beliau selalu meminta kami untuk membaca 2 kalimat yang tertulis di halaman khusus kami, yang berbunyi :

”Saya mau melakukan hal-hal yang besar, baik, dan benar bagi diri sendiri dan orang lain”


dan

”Saya mempunyai potensi yang lebih besar daripada yang saya ketahui saat ini dan saya mau mengembangkan potensi saya itu secara maksimal”.

Sungguh luar biasa sugesti yang telah beliau berikan kepada kami sebagai anak didiknya. Saking ngefansnya, aku menyempatkan diri untuk melukis wajah beliau di atas kertas putih dengan kemampuanku yang tidak seberapa itu. Aku mulai menggambarnya dengan penuh cinta dan rasa kekaguman yang tiada habisnya. Aku berharap ketika aku lulus nanti, aku bisa memberikan gambar itu kepada beliau sebagai kenang-kenangan dan sekaligus ungkapan bahwa aku adalah salah satu orang dari sekian banyak orang yang telah mengasihinya.



Nb : Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung dan menyampingkan kualitas dari dosen-dosen yang lainnya lho. Jadi apabila tulisan saya ini kurang berkenan, mohon dimaafkan.

Minggu, 25 April 2010

Dibuat Bingung oleh Masjid Agung di Temanggung


...Beberapa detik setelah aku masuk toilet, tiba-tiba lampunya mati bahkan seluruh gedung masjid juga ikut mati. namun ketika aku keluar dari sana, lampunya hidup lagi...

Hari itu aku sedang datang bulan. Aku tak bisa menahan lebih lama lagi untuk buang air kecil. Aku sudah berkeliling di sepanjang alun-alun kota Temanggung, namun tak satupun kutemukan kamar kecil. Alternatif terakhir aku mencoba untuk pergi ke masjid. Sebelumnya aku sudah minta ijin terlebih dahulu kepada penjaga masjid disana. Karena sudah menahan agak lama, aku tergesa-gesa mencari kamar kecil dan tak sempat melihat keadaan disana. Sandalku tidak sengaja telah menginjak air genangan yang terdapat di tempat wudhu putri. Kebetulan toiletnya bersebelahan dengan tempat wudhu. Beberapa detik setelah aku masuk toilet, tiba-tiba lampunya mati bahkan seluruh gedung masjid juga ikut mati. Namun ketika aku keluar dari sana, lampunya hidup lagi. Tadinya aku sempat berpikir, hal ini merupakan bagian dari keisengan teman-temanku. Tapi ternyata tidak, mereka tidak melakukannya.

Ternyata aku baru sadar setelah diberi tahu temanku bahwa di dekat toilet yang aku masuki tadi terdapat 2 buah makam.

Aku tidak tahu pasti, apa sebenarnya arti dari mati lampu tadi. Bisa jadi aku yang terlalu lebay dalam menyikapinya.

Selasa, 20 April 2010

Misconception 2

Aku bertemu kamu lagi setelah beberapa bulan tidak bertemu dan hampir tidak ada komunikasi.
Saat itu aku merasa sedikit grogi, mungkin karena sudah lama tidak bertegur sapa denganmu.
Tapi syukurlah, ternyata aku ada temannya. Karena bukan cuma aku yang merasakan demikian.

Aku tidak tahu apakah perasaan itu masih ada buat kamu
Aku sudah mencoba untuk melupakanmu sedikit demi sedikit namun tidak untuk membencimu
Sms apologize-mu sore itu, membuatku merasa perlu untuk memikirkanmu lagi
Tapi untuk apa?
Aku tidak ingin kita saling menyakiti
Yang aku inginkan hanyalah bisa menjadi sahabat terbaikmu

Yah, "sahabat terbaikmu"...
Sahabat yang selalu mengertimu
Sahabat yang selalu menghargaimu
Sahabat yang selalu peduli denganmu, dan
Sahabat yang selalu menjadi pendengar yang baik buat kamu

Kenapa "sahabat"?
karena sahabat akan mengasihi sahabatnya tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apapun.
karena sahabat tidak ada kata PUTUS.
karena sahabat akan tetap abadi walau dimakan waktu.

Semoga dengan "persahabatan" kita ini,(agak berat nulisnya)
kita bisa saling mengerti satu sama lain dan saling memaafkan.

Maukah kamu menjadi SAHABATKU?

Selasa, 13 April 2010

Belajar Romantis

Siang itu, Matamu memancarkan sinar cahaya yang menyejukkan hati
Kemudian terjadi sesuatu di dalam hatiku
Mungkin rasa rindu yang mendalam, yang selama ini aku pendam
Tatapanmu menghipnotisku
Kau bukan hanya sekedar indah, namun aku tak ingin memilikimu
Perhatianmu sudah sangat cukup tuk buatku merasakan indahnya dunia ini.

Jumat, 26 Maret 2010

Ketua KBM Jurnalistik juga MANUSIA…

Sepertinya kapasitas otakku ini perlu ditambah lagi dan sekiranya memory yang tidak penting harus segera aku delete lalu kumasukkan ke dalam recycle bin agar aku dapat menampung lebih banyak lagi informasi-informasi yang berkaitan dengan kewajiban dan tanggung jawabku sebagai mahasiswa Psikologi sekaligus Ketua Kegiatan Bakat Minat Jurnalistik. Jujur, aku kurang suka dengan kata “ketua”, aku lebih suka dengan kata ”koordinator”. Aku cukup terbeban dengan adanya mis-communication yang terjadi diantara kami (bidang 3, departemen infokom & propaganda dengan KBM Jurnalistik). Kurang adanya komunikasi yang baik, ketidakjelasan informasi, dan minimnya pengarahan dalam pembuatan proposal kegiatan dan laporan pertanggung jawaban. Sampai-sampai ada hal utama yang sebenarnya harus aku prioritaskan namun aku justru melupakannya, yaitu kesehatanku sendiri. Kesehatan jiwa dan ragaku...
Aku cukup stres dengan ini semua. Belum juga dengan skripsiku, yang revisiannya sama sekali belum aku sentuh. Kapan kelarnya coba?

To : Anak-anakku, anggota KBM Jurnalistik tercinta...
Aku harap dalam keanggotaan ini kita tidak memandang jabatan, usia, maupun jenis kelamin. Di sini kita sama-sama bekerja untuk mewujudkan target kegiatan kita agar dapat terlaksana dengan baik. Aku ingin kita mengerjakannya bersama-sama dan saling membantu satu sama lain.
Perlu teman-teman ketahui bahwa di sini kita sama-sama belajar, sama-sama dari enol. Jadi tidak ada batasan dan alasan bahwa kamu tidak bisa melakukannya. Dulu akupun juga begitu. Sama seperti apa yang kalian rasakan, seperti meraba-raba di dalam kegelapan. Namun aku berusaha untuk mencari terang itu, guna menerangiku dalam setiap langkahku agar aku tidak salah arah. Terkadang aku merasa bagaikan seorang guru Matematika yang dimintai tolong untuk mengajarkan mata pelajaran Sejarah. Apakah ini tepat? Apakah ini sesuai dengan kompetensi? TIDAK JAWABKU.
Begitu juga dengan apa yang sedang aku alami sekarang ini...
Aku diminta untuk mengerjakan sesuatu yang sebenarnya aku sendiri juga belum begitu tahu tentang hal itu. Kesalahanku adalah tidak berpikir panjang dalam mengambil keputusan. Kenapa (dulu) aku langsung meng-iya-kannya? Hal yang menjadi pertimbangan mereka memilihku adalah karena aku pernah menjadi anggota Departemen infokom & propaganda, bidang eksternal-internal yang salah satu tugasnya adalah mengurus mading dan menyusun buletin psikologi. Cuma karena itu, tidak lebih.
Aku menerima tawaran ini bukan karena jabatan, melainkan karena kesempatan. Kesempatan dimana aku bisa terus belajar, belajar, dan belajar. Disini aku diberi tantangan untuk bisa melakukan hal yang ”lebih”, hal yang berada diluar kemampuanku. Namun aku berpikir bahwa disitulah aku dapat belajar banyak tentang tulis menulis, cara menulis yang baik dan benar, belajar untuk mengkoordinir suatu kegiatan, dan belajar bekerja sama dengan orang lain yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Oiya, ada satu hal lagi, yaitu melatih KESABARAN. Hehehe. (karena disini banyak tercurah keringat dan air mata)

Ternyata kenyataan berkata lain, pekerjaan dan tanggung jawabku ini tidak se-simple yang aku bayangkan. Untuk mengimbangi hal ini aku berusaha mencari tahu informasi sebanyak-banyaknya tentang Jurnalistik, sharing kepada teman-teman yang lebih berkompeten dalam hal ini, bertukar pikiran dan pendapat, search di internet, baca buku-buku jurnalistik, dan mencoba mengilhami tulisan anak-anak Jurnalistik yang berasal dari situs dan majalah Scientiarum, wacana kritis-prisipil mahasiswa UKSW.

Aku ingin ketika aku membagikan ilmuku kepada teman-teman, semua itu benar-benar aku curahkan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku ingin memberikan semuanya itu tanpa tersisa.
Ingatlah bahwa kita semua adalah saudara. Kita adalah keluarga kecil KBM Jurnalistik. Aku bangga punya saudara seperti kalian semua, kalian itu cerdas, kritis, kreatif, dan humoris.
Terima kasih karena teman-teman selalu membantuku mencari tahu informasi-informasi yang aku butuhkan, ide-ide cemerlang untuk kemajuan KBM Jurnalistik, saran dan kritik yang membangun, dan kerelaan kalian dalam meluangkan waktu, pikiran, serta materi. Thank's about all...Tapi ingat, perjuangan kita belum berakhir sampai disini.

“ Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”.
(1 Korintus 15 : 58)

Selasa, 23 Maret 2010

normal atau abnormal?

Disaat banyak orang sedang meributkan tentang kisah cinta mereka, aku justru males banget ngomongin soal cinta.

Disaat banyak orang senang mendapatkan sms-sms bertubi-tubi dari seseorang, kadang aku justru merasa terganggu.

Disaat banyak orang menyetel nada dering hp nya dengan berbagai lagu, aku justru men-silent nya lalu menggantinya cukup dengan getaran saja.

Disaat banyak orang bahagia sekali menerima sms dari pacarnya yang berbunyi : lagi apa yank?, jangan lupa makan yah..., aku sayang kamu, dan lain sebagainya, di saat yang sama aku malah bosan mendapat sms seperti itu. Monoton banget. Selagi aku masih hidup, pastinya aku juga nggak bakalan lupa dengan aktivitas yang namanya MAKAN.

Disaat banyak orang sedih dan menangis ketika putus dengan pacarnya, aku malah justru senang dan bahagia karena bisa terbebas dari makhluk yang berjenis kelamin laki-laki itu. Merasa bebas dan tidak ada kekangan sama sekali, nggak boleh inilah,,,nggak boleh itulah,,,huff capek deh.

Mungkin tanpa aku sadari aku sedang menggunakan strategi defence mechanism untuk mengatasi masalahku ini...
Menurut teori Freud, mekanisme pertahanan diri (defence mechanism)digunakan untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Jadi, mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri.

Hmm, bisa jadi aku sedang menipu diriku sendiri.