Kamis, 09 September 2010

Gajah Buncit

Raditya Dika bisa populer karena novel ”Kambing Jantan”nya, dan aku harap aku juga bisa ikutan eksis dengan ”Gajah Buncit”nya. Cerita ini mengisahkan tentang kedekatanku dengan adik angkatanku, si brondong yang konon katanya punya perut buncit. Berhubung dia berasal dari daerah yang sudah terkenal akan gajahnya, So aku kasih nama dia si Gajah Buncit. Sebenarnya kita sudah saling mengenal satu sama lain. Apalagi ketika kita tergabung dalam suatu organisasi di Fakultas Psikologi. Dari awal bertemu aku tidak merasakan getaran apa-apa, karena aku berusaha untuk selalu profesional dalam menjalankan tugas. Begitu juga dengan dirinya. May be...

Setelah satu tahun berlalu, tugas sudah selesai dan kami sudah tidak bekerja sama lagi dalam organisasi tersebut. Kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jarang bertemu dan jarang berkomunikasi.

Hingga suatu hari, aku mendapatkan message dari dirinya lewat facebook. Isinya hanya seputar menanyakan kabar, mengkritik warna background blogku yang katanya warnanya ga kuku’ (dibaca: bikin sakit mata), dan dia sempat juga membahas tentang hobiku yaitu menggambar. Lalu aku balas seperlunya saja.

Ketika aku sedang online di FB, tiba-tiba dia chat aku.

Biasanya dia akan memulai percakapan dengan menyapa : Mbak May...

Dan bla...bla...bla... kita mulai ngobrol ngalor ngidul.

Dan semenjak itulah kita jadi sering sms-an.


Sampai akhirnya, aku mendapatkan message darinya via FB yang berisi ajakan makan malam, bahasa kerennya dinner bareng. Wow, kalau urusan makan mah sepertinya tidak bisa ditolak nih. Hehe, secara aku doyan banget makan. Pantesan aja badanku nggak pernah bisa kurus. Tapi saat itu aku langsung minta ke dia agar acara nge-date nya jangan cuma aku ma dia doang, gile aje. Aku pengen ada pihak ketiga atau keempat yang bisa nemenin kita makan malam. Maksudku biar bisa jadi satpam gitu. Hehe… Akhirnya permintaan itu dikabulkan oleh si Gajah. Dia mengajak 2 temannya, yaitu Gisel dan Indro (nama disamarkan). Untung aja ada mereka berdua, jadi aku bisa lebih relax dan nggak canggung.


Pernah suatu kali aku mendapat sms dari Gajah yang bunyinya bikin bulu kudukku berdiri :


“Aq kgn ma km may.. Muach..”


Waduh, ni anak kenapa yah? Lagi kena gangguan ato lagi mabok yah, baru akrab aja udah berani and pede banget nulis kayak gitu.

Belum reda keherananku dengan smsnya si Gajah, tiba-tiba dia telpon. Aku tambah ngeri mau angkat telponnya. Nggak ngebayangin dia mau ngomong gitu secara langsung ma aku. Hahaha. Langsung aja aku tekan tombol untuk menerima telpon dan... kemudian cepat-cepat aku sembunyikan HPku di bawah bantal. Aku geli sendiri mau jawab gimana. Waktu itu gayaku freak banget. Nungging-nungging sambil tutup kuping seolah-olah kayak ada bom yang mau meledak di sebelahku. Aku sempet denger si Gajah mangil-manggil namaku. (Kayak orang lagi koma setengah sadar, manggil-manggil nama kekasihnya) --lebay tingkat tinggi--

Setelah ”rintihan” si Gajah berhenti, aku baru berani membuka bantal. Ternyata eh ternyata si Gajah ngirim sms yang berbunyi :


”Tlg angkat, penting bgt”.


Aduh, gimana ya... aku tetep nggak mau angkat telponnya, nggak tahu kenapa. Mungkin karena aku sedang phobia dengan suara gajah ato sejenisnya. Lalu dia kirim sms lagi yang bunyinya :


“May tu sms yg da kangen2nya indro yg krim. Maap y”


Owalah, ckckck,,, dasar si Indro! minta dicium tu anak. (milih dicium pake apa, sepatu atau sandal?)


Banyak sekali gombalan dan rayuan yang aku dapatkan dari si Gajah ini. Sampai-sampai isi inbox HPku penuh gara-gara sms si Gajah yang overload itu. Ujung-ujungnya untuk mencari simpati, Gajah selalu titip salam buat Ibuku. Kenapa yah setiap cowo yang lagi deket ma aku kebanyakan suka nitip salam buat Ibuku? (Hmm sebentar, aku jadi curiga nih. Jangan-jangan...Oh, No! Sebenarnya kalian sukanya ma aku atau sama ibu aku sih? Hks.)


Hingga suatu saat, benih-benih cinta itu mulai terasa. Seperti kata pepatah Jawa, ”Witing tresna jalaran saka kulina”. Setiap orang pastinya akan mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan isi hatinya. Begitu juga denganku. Aku cenderung lebih suka mengungkapkan isi hatiku melalui sebuah gambar, dan akhirnya aku tergerak untuk menggambar seekor gajah dan seekor kebo yang di tengahnya aku bubuhi lope-lope berwarna merah jambu. Dan inilah hasilnya. Taraaa....!!!

(Not bad lah! gambar ini digambar menggunakan paint yang ada di komputerku. Untuk menghasilkan perpaduan warna dan gambar sebagus ini dibutuhkan ketelitian dan keahlian khusus serta bakat menggambar yang ekstra tinggi. Eitz, kalian dilarang protes, gini-gini aku nggambarnya sambil gemeteran tauwww...secara pake mouse gitu lohhhh. Idih, please deh May.. biasa aja kale. Dasar Maya suka Lebay!)

Kenapa yang satunya gambar Kebo? Karena si Gajah suka memanggilku dengan sebutan ”Kebo”. Nama itu tercetus karena aku suka ketiduran kalau lagi smsan ma Gajah. Si Gajah dengan sabar menunggu balesan sms, eh si Kebo malah asik tidur. Tidur adalah salah satu hobiku, jadi wajarlah kalau si Gajah memanggilku dengan sebutan Kebo.

Namun tiba-tiba aku berpikir kembali kalau sepertinya cinta ini adalah cinta terlarang dimana posisiku lebih tua dari si Gajah. Entar kasusnya mirip kayak si Yuni Shara ma Raffi Ahmad deh, tapi bedanya aku bukan tante-tante yang udah menjanda loh.

Aku juga sempat menyampaikan kegundahanku ini kepada si Gajah, tapi dia berpikir bahwa perbedaan umur itu bukanlah penghalang untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius. Yang penting kedewasaannya, katanya. Ckckck, ni anak kagak bisa dibilangin rupanya.


Hari demi hari berganti, smsan ma Gajah menjadi semakin intens. Dari bangun tidur, mau mandi, mau makan, ngerjain tugas/pekerjaan, nonton bola (waktu itu lagi heboh2nya Piala Dunia), sampe mau tidur lagi. Huft, tiada hari tanpa smsan ma Gajah. Pengen rasanya nyanyiin lagu buat dia, Mau dibawa kemana hubungan kita...


Tapi lama kelamaan aku kok merasa bersalah ya smsan terus ma si Gajah. Nggak tahu kenapa. Nggak nyaman aja. Hmm, sepertinya aku tahu penyebabnya, kenapa aku selalu dihantui oleh rasa bersalah, nggak enak, dan nggak nyaman. Tak lain dan tak bukan karena aku berpikir bahwa kedekatanku dengan si Gajah ini jangan-jangan hanya sekedar “kesenangan sesaat” yang dibuat olehnya. Sampai-sampai aku sms dia, mengajukan 3 faktor utama yang menyebabkan aku mulai ragu untuk meneruskan hubungan yang nggak jelas ini.


Yang pertama : Aku tidak ingin menimbulkan masalah baru. Sepertinya akan banyak kontroversi ketika Gajah dan Kebo bersatu.

Yang kedua : Aku tidak ingin menyakiti perasaan orang lain. Hmm, pastinya akan ada seseorang atau mungkin beberapa orang yang kecewa ketika hubungan ini berlanjut.

Yang ketiga : AKU TAKUT JATUH CINTA.


Lalu si gajah membalas smsku,


“May??? Give me chance to prove you…”

“Okelah may, aq bs hargai.. But, aq harap kita bsa brproses dgn apa yg kita jalani.hehe.”


Fiuh, akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega. Paling nggak aku bisa bebas dan tidak terbeban lagi. Untunglah si Gajah bisa ngertiin apa yang aku mau.


Mungkin inilah yang dinamakan proses. Proses dimana kita sebagai manusia dewasa diharapkan untuk bisa membedakan antara keinginan sesaat dan kebutuhan.


Catatan terakhir buat Gajahku :

Halo Gajah... ni Kebo.

Btw, senang bisa mengenalmu lebih dalam Jah...

Banyak hal dan inspirasi yang Kebo dapatkan dari seorang eh seekor Gajah sepertimu.

Semoga suatu saat Gajah bisa menemukan pengganti Kebo yang bisa mendampingi Gajah sampe Gajah menjadi fosil nantinya. Pastinya harus dengan sesama Gajah lho. Jangan sama Kebo. Karena ketika Gajah dan Kebo dipersatukan, selain akan menyalahi kodrat, hal itu akan menjadi GAJEBO alias Ga jelas Boo...


Ya udah, Kebo mau ngebo(dibaca: tidur) dulu yah...Gajah jangan lupa mandi.


Salam,

Kebo Endut.


Minggu, 29 Agustus 2010

My Dream's (part 1)

1. Mengharumkan dan menjaga nama baik keluarga besar Soekarno Banter & Prawiro Handoko.
2. Membahagiakan keluarga, terutama Ibu.
3. Menjadi seniman / musisi.
4. Membuat suatu karya seni hasil ide kreatif sendiri.
5. Menjadi guru SLB (Sekolah Luar Biasa), atau jadi guru sekolah minggu.
6. Membuka usaha warung makan.
7. Menjadi penulis buku best seller.
8. Mempunyai suami yang seiman, setia, dan siaga.
9. Menjadi "Supermom" bagi suami dan anak-anakku.
10.Menjadi jalan berkat bagi orang lain yang membutuhkan.

Senin, 26 Juli 2010

Hadiah Terindah

Sebentar lagi usiaku genap 22 tahun. Tepatnya pada tanggal 31 Juli 2010 nanti. Dalam perjalanan hidupku ini, aku mendapatkan banyak pelajaran berharga baik itu suka maupun duka yang nilainya tidak bisa tergantikan oleh apapun. Tapi aku yakin, semua itu terjadi atas kehendakNya agar aku bisa lebih menghargai arti hidup ini.

Tiba-tiba aku bergairah untuk menulis note ini karena aku baru saja mendapatkan “hadiah” dari Tuhan. Benar-benar tamparan yang keras buat aku ketika aku harus mengetahui bahwa tidak semua yang aku harapan bisa menjadi kenyataan. Tamparan ini membuatku tersadar dari keangkuhanku, kesombonganku, kepicikanku, dan keegoisanku selama ini. Memang benar kata orang, kita tidak akan pernah sadar dan tahu sendiri ketika kita belum mengalaminya.

”Mengapa aku baru sadar sekarang? Kenapa nggak dulu-dulu aja?” kalimat inilah yang selalu membuatku merasa malu dengan diriku sendiri.

Dulu aku terlalu yakin dengan segala sesuatu yang ada di dalam diriku ini, tanpa mau membuka mata dan membuka telinga.

Aku terlalu yakin bahwa apa yang aku pikirkan itu benar.

Aku terlalu yakin bahwa apa yang aku katakan itu benar.

Aku terlalu yakin bahwa apa yang aku lakukan itu benar.

Tapi ternyata, semua yang aku pikirkan, katakan, dan lakukan itu tak selamanya benar.

Sampai-sampai nasehat dari ”orang terdekat” sekalipun tidak mempan untuk mengubah sifat batuku ini.
Aku selalu meremehkan dia, menganggap bahwa semua nasehatnya adalah hal yang tidak penting. ”Hanya menggangguku saja.”pikirku.

Hingga akhirnya, aku sadar bahwa hal yang menggangguku itu benar-benar pergi.
Pergi dan takkan kembali.
Aku rindu mendengar nasehat-nasehat yang pernah menggangguku itu.
Aku rindu diganggu.
Aku rindu dengan nasehat-nasehatmu.
Aku rindu kamu...

Sesuatu yang sudah di depan mata, kenapa aku justru mencarinya di seberang lautan?
Sesuatu yang luar biasa, kenapa aku justru mencari yang biasa diluar?
Sesuatu yang sudah dipermudah, kenapa aku justru mencari yang dipersulit?

Aku tidak ingin menjadi filsuf yang selalu berandai-andai, toh kondisinya juga tidak akan kembali seperti semula.
Aku sependapat dengan Indah Pertiwi ketika menyanyikan lagunya yang berjudul Baru Aku Tahu Cinta itu Apa, semua liriknya mewakili isi hatiku saat ini...


Ada saat mengakui
Kesalahan yang ku buat
Ada saat ku mengerti
Setelah ku kehilangan

Senyummu air matamu
Setiamu dulu ku hancurkan

Baru aku tahu sakit itu apa
Setelah kau bukan milikku
Baru aku tahu cinta itu apa
Setelah kau hapus cintaku
Yang dulu dalam hatimu

Kini saat ku belajar
Menghargai yang ku punya



Satu hal yang aku harapkan di hari ulang tahunku nanti adalah bisa benar-benar membuka mata dan membuka telinga.

Terima Kasih Tuhan, dengan adanya tamparan keras ini berarti Tuhan masih sayang ma aku dan masih memberikan kesempatan buat aku untuk tidak melangkah sendiri melainkan selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatanku.




Senin, 10 Mei 2010

Mungkin...aku ngefans Pak Aloy!

Beberapa hari ini aku menyadari bahwa ada yang aneh dalam diriku. Tulisanku makin lama makin jelek. Aku tidak tahu kenapa, mungkin karena aku kepengen nulis cepat, sehingga tulisan yang dihasilkan menjadi jelek dan disingkat-singkat. Berbeda dengan yang dulu, meskipun agak sedikit lamban tapi tulisanku sangatlah rapi. Banyak orang yang mengatakan bahwa tulisanku enak dibaca dan rapi. Kurang lebih satu setengah tahun ini aku menulis dengan cara cepat dan hasilnya juga tidak serapi dulu lagi.
Aku jadi ingat kata Bapak Aloysius Soesilo. Salah satu klien beliau juga mengalami hal yang serupa denganku. Dulu tulisannya rapi sekali, seperti diberi garis bantu karena saking lurusnya. Namun setelah dia mengalami suatu masalah, tulisannya berubah menjadi kacau, naik turun, dan susah dibaca. Barusan aku juga sempat berbincang-bincang dengan temanku yang kebetulan memiliki teman yang juga mempunyai pengalaman seperti itu. Ketika tersandung masalah dan akhir-akhir ini ada gangguan (kebetulan dia mengalami gangguan halusinasi) tulisannya berubah menjadi jelek, padahal dulu tulisannya bagus dan rajin.
Lah, kalau sekarang ini aku punya gangguan apa dong? Aku nggak pengen punya gangguan. Aku tetap ingin menjadi orang normal. Mungkin kesibukanku yang membuatku menjadi seperti ini. Mungkin juga karena aku kurang bisa membagi waktu dan mengkondisikan pikiranku agar tetap positif dan stabil. Terkadang aku juga mengalami kesusahan berbicara, susah untuk merangkai kosakata, dan terkadang apa yang sudah terkonsep di dalam pikiranku tidak sesuai dengan apa yang aku ucapkan.
Aku pengen suatu saat aku bisa menyempatkan diri untuk berdiam diri, merefleksikan diri mengenai kejadian-kejadian apa saja yang pernah aku alami dan mencoba untuk mengendalikan emosiku, membersihkan pikiranku dari segala beban, pikiran negatif, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, dan sebagainya. Aku ingin menenangkan diri, dan mungkin aku harus benar-benar sendiri tanpa ada orang lain yang mengganggu.
Aku juga pengen menyempatkan diri untuk belajar dan membaca buku-buku yang menurutku bisa membantu untuk membuka wawasanku mengenai banyak hal. Namun sepertinya hal itu juga kurang efektif apabila tidak ada seseorang yang bisa aku ajak diskusi dan bertukar pikiran tentang apa yang aku pelajari.
Mungkin hal-hal tersebut di atas yang antara lain telah mempengaruhi perubahanku saat ini.

Jika dicermati lebih lanjut, daritadi aku selalu menggunakan kata ”mungkin” untuk membuat kesimpulan mengenai ceritaku ini. Aku jadi teringat lagi dengan Bapak Aloysius Soesilo, ia merupakan salah satu dosen Psikologi favoritku (ehm, maaf salah ketik...maksudku bukan salah satu dosen Psikologi favoritku, melainkan satu-satunya dosen Psikologi favoritku karena pada dasarnya aku memang menyukai metode dan cara beliau mengajar.)
Bapak itu mengatakan : ”Oh Maya, mengapa hati nuranimu sangat kecil? Mengapa kamu kurang percaya dengan dirimu sendiri?” Aku baru sadar bahwa aku telah mengucapkan kata ”mungkin” yang menegaskan bahwa aku memang kurang percaya diri. Saat itu aku memang merasa ragu dan takut salah ketika diminta untuk menjawab suatu pertanyaan. Untuk tetap berada di zona aman, aku menggunakan kata ”mungkin” di awal jawaban yang aku lontarkan. Sepertinya aku memang harus membuang jauh-jauh kata ”mungkin” itu.

Pak Aloy, begitulah panggilan akrab beliau. Pak Aloy telah mengajarkan banyak hal yang belum kita ketahui dan sadari sebelumnya. Beliau selalu berusaha untuk menyederhanakan sesuatu yang dianggap sulit untuk bisa dimengerti dan dipahami oleh para muridnya. Aku merasa benar-benar duduk di bangku kuliah sejak diampu oleh beliau. Sayangnya beliau hanya mengajar beberapa mata kuliah saja, coba kalau semua mata kuliah diampu oleh Pak Aloy? Wah pasti aku sangat bersemangat sekali dalam menempuh perkuliahan ini. Bapak itu selalu memberikan pencerahan dan motivasi untuk kami semua. Setiap pagi sebelum perkuliahan dimulai, beliau selalu meminta kami untuk membaca 2 kalimat yang tertulis di halaman khusus kami, yang berbunyi :

”Saya mau melakukan hal-hal yang besar, baik, dan benar bagi diri sendiri dan orang lain”


dan

”Saya mempunyai potensi yang lebih besar daripada yang saya ketahui saat ini dan saya mau mengembangkan potensi saya itu secara maksimal”.

Sungguh luar biasa sugesti yang telah beliau berikan kepada kami sebagai anak didiknya. Saking ngefansnya, aku menyempatkan diri untuk melukis wajah beliau di atas kertas putih dengan kemampuanku yang tidak seberapa itu. Aku mulai menggambarnya dengan penuh cinta dan rasa kekaguman yang tiada habisnya. Aku berharap ketika aku lulus nanti, aku bisa memberikan gambar itu kepada beliau sebagai kenang-kenangan dan sekaligus ungkapan bahwa aku adalah salah satu orang dari sekian banyak orang yang telah mengasihinya.



Nb : Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung dan menyampingkan kualitas dari dosen-dosen yang lainnya lho. Jadi apabila tulisan saya ini kurang berkenan, mohon dimaafkan.

Minggu, 25 April 2010

Dibuat Bingung oleh Masjid Agung di Temanggung


...Beberapa detik setelah aku masuk toilet, tiba-tiba lampunya mati bahkan seluruh gedung masjid juga ikut mati. namun ketika aku keluar dari sana, lampunya hidup lagi...

Hari itu aku sedang datang bulan. Aku tak bisa menahan lebih lama lagi untuk buang air kecil. Aku sudah berkeliling di sepanjang alun-alun kota Temanggung, namun tak satupun kutemukan kamar kecil. Alternatif terakhir aku mencoba untuk pergi ke masjid. Sebelumnya aku sudah minta ijin terlebih dahulu kepada penjaga masjid disana. Karena sudah menahan agak lama, aku tergesa-gesa mencari kamar kecil dan tak sempat melihat keadaan disana. Sandalku tidak sengaja telah menginjak air genangan yang terdapat di tempat wudhu putri. Kebetulan toiletnya bersebelahan dengan tempat wudhu. Beberapa detik setelah aku masuk toilet, tiba-tiba lampunya mati bahkan seluruh gedung masjid juga ikut mati. Namun ketika aku keluar dari sana, lampunya hidup lagi. Tadinya aku sempat berpikir, hal ini merupakan bagian dari keisengan teman-temanku. Tapi ternyata tidak, mereka tidak melakukannya.

Ternyata aku baru sadar setelah diberi tahu temanku bahwa di dekat toilet yang aku masuki tadi terdapat 2 buah makam.

Aku tidak tahu pasti, apa sebenarnya arti dari mati lampu tadi. Bisa jadi aku yang terlalu lebay dalam menyikapinya.

Selasa, 20 April 2010

Misconception 2

Aku bertemu kamu lagi setelah beberapa bulan tidak bertemu dan hampir tidak ada komunikasi.
Saat itu aku merasa sedikit grogi, mungkin karena sudah lama tidak bertegur sapa denganmu.
Tapi syukurlah, ternyata aku ada temannya. Karena bukan cuma aku yang merasakan demikian.

Aku tidak tahu apakah perasaan itu masih ada buat kamu
Aku sudah mencoba untuk melupakanmu sedikit demi sedikit namun tidak untuk membencimu
Sms apologize-mu sore itu, membuatku merasa perlu untuk memikirkanmu lagi
Tapi untuk apa?
Aku tidak ingin kita saling menyakiti
Yang aku inginkan hanyalah bisa menjadi sahabat terbaikmu

Yah, "sahabat terbaikmu"...
Sahabat yang selalu mengertimu
Sahabat yang selalu menghargaimu
Sahabat yang selalu peduli denganmu, dan
Sahabat yang selalu menjadi pendengar yang baik buat kamu

Kenapa "sahabat"?
karena sahabat akan mengasihi sahabatnya tanpa pamrih, tanpa mengharapkan imbalan apapun.
karena sahabat tidak ada kata PUTUS.
karena sahabat akan tetap abadi walau dimakan waktu.

Semoga dengan "persahabatan" kita ini,(agak berat nulisnya)
kita bisa saling mengerti satu sama lain dan saling memaafkan.

Maukah kamu menjadi SAHABATKU?

Selasa, 13 April 2010

Belajar Romantis

Siang itu, Matamu memancarkan sinar cahaya yang menyejukkan hati
Kemudian terjadi sesuatu di dalam hatiku
Mungkin rasa rindu yang mendalam, yang selama ini aku pendam
Tatapanmu menghipnotisku
Kau bukan hanya sekedar indah, namun aku tak ingin memilikimu
Perhatianmu sudah sangat cukup tuk buatku merasakan indahnya dunia ini.