Siang itu (20/11/2011) aku bertemu dengan salah satu guru sekolah minggu, dia adalah seorang laki-laki. Kebetulan kami baru saja selesai menunaikan kewajiban kami mengajar di kelas sekolah minggu. Kami berkumpul di ruang rapat sambil menikmati tahu bakso, donat, dan secangkir teh manis hangat. Karena kami tidak begitu kenal satu sama lain, maka mulailah kami dengan obrolan ringan.
Kak, kamu suka makan donat yah?
-malu2-
Ehm, bapak kamu penjual donat yah?
-hening-
Btw, muka kamu kok kayak donat?
-tidak mungkin hening-
Bukan. Bukan ini yang kita omongin.
Seperti biasa, kita membahas tentang hal-hal seputar perkuliahan. Ujung-ujungnya dia bertanya tentang daerah tempat asalku, lalu aku jawab apa adanya kalau aku berasal dari Purworejo. Tiba-tiba dia mengeluarkan statement bahwa dia paling minder sama orang Jawa (Kebetulan dia bukan orang Jawa). Lalu aku bertanya dengan penuh heran: “Kok bisa? Kenapa harus minder sama orang Jawa?” Lalu dia menjawab kalau kebanyakan orang Jawa itu pintar-pintar! Wow, sebagai orang Jawa aku merasa tersanjung, namun di sisi lain aku sadar diri bahwa (mungkin) aku bukan bagian dari “orang Jawa pintar” yang dia maksud. Dia juga bilang ketika ada kerja kelompok di kampus yang anggotanya dominan orang Jawa, dia milih nggak ikutan kumpul kelompok, dia hanya bertanya seperlunya :”Bagian mana saja yang harus aku kerjakan?” Setelah itu dia memilih untuk pergi dari teman-temannya dan mengerjakan tugasnya sendirian di kost. Yuph betul, Sendirian. Begitu pula seterusnya.
Aku bertanya dalam hati, sebenarnya apa sih yang membuat dia menjadi seperti itu? Akhirnya dia bercerita bahwa dia pernah mengalami kegagalan (ternyata kegagalan ini tidak ada hubungannya dengan orang Jawa) dan hal itu sempat membuatnya benci kepada Tuhan. Dia juga mengaku bahwa baru mulai hari itu dia mengikuti kebaktian di gereja, kemarin-kemarinnya dia bolos. Kegagalan yang dia alami memang cukup berat yaitu dia pernah tidak lulus ujian nasional, bukan cuma sekali tapi 2 kali. Hal itu membuat dia berpikir bahwa dia adalah manusia yang paling bodoh dan tak berguna sampai-sampai dia juga bercerita tentang isi doanya saat dia gagal. Ia bilang kepada Tuhan, katanya : “Tuhan, mengapa Engkau tidak mencabut nyawaku saja ketika dulu aku lahir?” dramatis banget kedengarannya. Dia juga mengatakan bahwa dia menjadi lebih sering menangis setelah peristiwa itu. Padahal dia cowo loh. (Lah terus kalau dia cowo emang kenapa? Nggak boleh nangis gitu?)
Saat itu aku hanya bisa terdiam dan merasa bahwa orang yang sedang duduk di depanku ini sepertinya sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Dia butuh teman! Teman yang dapat mengembalikan rasa percaya dirinya.
Aku hanya bisa bilang ke dia bahwa setiap orang pastinya punya masalah dan pergumulan dalam hidupnya. Sedih boleh, tapi jangan berlarut-larut. Jangan biarkan sesuatu yang TIDAK BISA kita kerjakan mengganggu apa yang BISA kita kerjakan. Ibarat ketika ada kenaikan kelas di sekolah, setiap murid wajib mengerjakan ujian atau tes terlebih dahulu sampai dinyatakan lulus. Setelah itu barulah si murid diperbolehkan untuk naik ke kelas berikutnya. “Begitu juga dengan kita kak.. Jika kita ingin naik tingkat/level yang lebih tinggi, kita harus mampu menyelesaikan persoalan yang sebelumnya. Bisa jadi kegagalan yang pernah kita alami itu adalah penguat kita di masa yang akan datang.” kataku dengan penuh ke-sotoy-an, padahal copy paste kalimatnya Pak Mario Teguh. Hihihi…Ssst, jangan bilang-bilang ya.
Setelah khotbahku selesai, kakak itu hanya manggut-manggut saja. Nggak tahu juga, manggut-manggut tanda setuju atau cuma ingin menghargai aku ngomong. :)
Pulang dari gereja, aku renungi kembali cerita tentang si guru sekolah minggu tadi. Meskipun aku tidak bisa merasakan apa yang sedang ia rasakan namun sepertinya ia butuh pengakuan, penerimaan diri, dan pujian dari orang lain untuk mengobati rasa sakit hatinya tentang kegagalan yang pernah ia alami. Pantesan aja di awal obrolan ada yang aneh, dia selalu menonjolkan sisi akademisnya, semacam pamer kepandaian gitu. Dia bilang kalau belajar bisa sampai pagi (jangan bilang kalau mulai belajarnya jam 1 pagi trus selesainya jam 1 pagi lebih 5 menit). Dia juga cerita kalau bersedia ngajarin tugas mata kuliah teman-temannya secara sukarela sampai dibela-belain datang ke rumah temannya itu (waduh kak..itu mah namanya kerja rodi, nggak perlu segitunya juga kali. Masih banyak cara lain yang lebih elegan untuk meningkatkan rasa percaya diri). Dia bilang hampir setiap hari tidak ada waktu luang karena sibuk. Rapat sekolah minggu aja dia sering nggak datang. Tapi 5 menit kemudian dia keceplosan kalau kemarin barusan nonton bola sampai pagi. (Baguss!!) Sering ngomongin hal-hal yang sebenarnya tidak penting untuk dibahas. (Berarti kayak aku gini yah, bikin note yang nggak penting. hehe). Becandaannya terkesan crunchy banget, nggak lucu sama sekali tapi tetep dilucu-lucuin. Kadang aku juga ikut nemenin ketawa, kasian dia udah berusaha menghibur kita tapi kok nggak ada yang ketawa. Aku jadi memaklumi mengapa dia bisa bersikap seperti tadi. Maklum banget. Maaf ya kak, udah ngerasani kakak yang enggak-enggak. Mana jari kelingkingnya? Kita baikan yah…
Kalem-kalem gini, aku sendiri juga pernah gagal. Malah mungkin kegagalan yang aku alami lebih banyak dari dia. Aku pernah gagal masuk SMA favorit, nyesel banget pastinya. Aku juga pernah gagal dan dinyatakan tidak lolos dalam audisi voice paduan suara UKSW padahal udah dibela-belain nari India nggak jelas di kelas koreografi, trus pulang sampai larut malam. Kesalahanku yang paling fatal adalah ketika sesi wawancara. Jawabanku emang rada nyleneh, aku bilang motivasiku ikut audisi yaitu supaya bisa jalan-jalan ke Jepang! Gila nggak tuh, jujur banget! Kadang jujur sama bego itu beda tipis. Kenapa aku bisa jawab gitu, karena kebetulan anggota voice yang lalu sempat tampil di negeri sakura dan aku jadi terobsesi untuk ikut audisinya. Hehehe. Kegagalan yang lainnya yaitu proposal skripsiku ditolak sebanyak 2 kali padahal bikinnya udah madep manteb dan udah yakin banget kalau bakal diterima namun ternyata takdir berkata lain. Cuma gara-gara itu aku sempat mutung dan males ngurusin skripsi, sehingga banyak waktu yang terbuang sia-sia. Kegagalan lain yang bikin miris aku gagal mempunyai postur tubuh yang tinggi. Udah coba minum susu kalsium setiap hari, olahraga loncat-loncat nggak jelas, namun hasil akhir tetap saja nihil. Pertumbuhanku bukannya ke atas tapi malah ke samping. Hks. Dan yang sering bikin aku galau, udah segedhe ini usia juga udah mulai uzur tapi belum juga punya pacar (lagi). Sedih yah..Hehe. Tapi sekali lagi, aku jadi ingat kalimat berikut ini : “Jangan biarkan sesuatu yang TIDAK BISA kita kerjakan mengganggu apa yang BISA kita kerjakan”.
Aku yakin teman-teman yang lainnya pasti juga pernah mengalami kegagalan dalam berbagai hal. Memang, ketika kita sedang mengalami kegagalan, mungkin kita akan merasa kecewa, sedih, down, bahkan bisa membuat diri kita menjadi minder di hadapan orang lain. Namun kuncinya ada pada diri kita sendiri. Jika kita yakin bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan, maka kita tidak perlu takut apalagi menyalahkan Tuhan. Justru saat-saat seperti itulah kita harus lebih dekat dengan Tuhan agar iman kita dikuatkan. Kita harus percaya bahwa Tuhan selalu menolong tepat pada waktunya dan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatNya.
Dan detik ini juga, aku akui akupun juga pernah minder, pernah kecewa, pernah down, pernah putus asa bahkan sempat kehilangan semangat sampai pada akhirnya banyak waktu yang aku buang dengan sia-sia. Namun seperti judul notes ini : Kalau GAGAL, cepatlah BANGKIT!, saat itulah aku belajar menerima kekalahan-kekalahan kecil demi menanti dan mendapatkan sebuah kemenangan BESAR.
Jangan takut untuk maju,
Jangan takut untuk mencoba lagi,
Jangan takut untuk memulai sesuatu,
Jangan takut untuk mempelajari hal baru,
Jangan takut untuk menjadi pribadi yang berbeda.
Karena tanpa perubahan, berarti hidup kita tidak benar-benar “HIDUP”.
#Berpose dengan salah satu murid sekolah minggu. Kompak yah! :)
Jumat, 03 Februari 2012
Minggu, 23 Oktober 2011
Terima Kasih Facebook
Berterima kasihlah kepada Mark Zuckerberg yang telah menemukan situs jejaring sosial bernama FACEBOOK. Yup, facebook yang setiap harinya hampir selalu menyita waktu kita hanya untuk update status, upload foto-foto terbaru, ganti foto profil, posting catatan baru, mencari info sebanyak-banyaknya tentang gebetan baru, gonta ganti status hubungan, pamer kemesraan bareng pacar, ada juga yang selalu rajin mengikuti perkembangan sang mantan. Ehm, pokoknya facebook itu emang nggak ada matinya. Bisa dibilang, facebook adalah sarana katarsis bagi setiap orang. Tanpa disadari kita bisa betah di depan komputer, laptop, atau handphone selama berjam-jam hanya karena facebook. Sampai-sampai lupa makan, lupa mandi, lupa ngerjain tugas, dan lupa ngerjain skripsi. Hmm…kayak siapa ya? (kayak yang nulis).
Mungkin ada beberapa dari kita yang memanfaatkan facebook sebagai sumber refreshing dari segala kepenatan, kebetean, dan rasa kesepian. Tapi tahukah kamu? Menurut pengalamanku pribadi, aku malah bisa tambah bete kalau lagi buka facebook pas lagi bete. Kenapa? Karena disaat bete emosiku pasti tidak stabil dan saat itulah perasaanku menjadi lebih mudah terganggu oleh hal-hal yang sebetulnya tidak perlu ditanggepin secara serius. Intinya, aku jadi gampang sensitif. Misal, kalau keadaan lagi stabil aku bakal ketawa-ketawa sambil geleng-geleng kepala melihat kekonyolan si mantan pacar yang sedang berusaha deketin cewek-cewek ababil, aku bakalan bersyukur banget karena udah putus sama dia. Namun kalau lagi nggak stabil, cuma lihat kayak itu aja rasanya jadi pengen marah, bisa dibilang aku sedikit cemburu (cuma sedikit sih, gengsi lah), kadang bisa ngrasa sedih dan nyesel karena udah mutusin dia, merasa kalah oke dari cewek-cewek ababil itu. Hahaha… sumpah, pemikiran yang dangkal banget! Pernah, gara-gara lagi labil aku menantang diriku sendiri untuk puasa facebook selama 1 minggu. Rasanya puas banget ketika bisa survive dan bisa melawan diri sendiri untuk tidak membuka facebook selama 1 minggu. Untunglah sekarang udah nggak terlalu kecanduan facebook karena kebetulan koneksi GPRS HP nexian she-ku juga lagi error. So, rasanya sedih tapi seneng. Sedih karena HP error, seneng karena mau nggak mau aku bisa ngerem untuk buka facebook.
Seru juga ketika sedang baca-baca status dari temen-temen, ada yang suka memberikan motivasi, ada yang suka ngomel-ngomel sendiri, ada juga yang merasa bahwa Tuhan itu punya facebook, lalu ada juga yang selalu memenuhi dindingnya dengan status-status penuh cinta. Semua itu wajar dan manusiawi. Akupun pernah melakukannya. Namun terkadang ada juga yang suka menuliskan masalah pribadinya ke dalam status mereka sehingga hal itu menjadi konsumsi publik. Yang tadinya nggak tahu jadi tahu, yang tadinya tahu jadi tempe. (Loh?)
Ada juga yang selalu nulis kata-kata kotor dan kasar di statusnya. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Banyak terdapat luapan emosi disitu, emosi sih boleh tapi jangan berlebihan. Karena secara tidak langsung, mereka justru sedang menghancurkan image mereka sendiri dengan kata-kata yang tidak berguna itu. Sayang sekali kan? Ada juga yang saling menyindir di status masing-masing, berantem di dinding dan status teman dengan kalimat yang tidak berpendidikan, saling mempertahankan ego masing-masing. Seketika itu kecantikan dan kegantengan mereka menjadi tidak ada artinya lagi.
Kalau aku paling seneng buka catatan/notes milik temen-temen, ada banyak hal yang bisa kita dapatkan disitu. Pengalaman hidup, opini, tips-tips, cerita humor, lirik lagu, sampai resep makanan. Aku juga seneng baca-baca blog milik temen. Ternyata kita bisa mendapat banyak hal dan pengetahuan dari situ.
Aku bersyukur karena facebook nggak kayak friendster. Kalo di friendster bakal ketahuan ketika kita mengunjungi friendster milik teman. Si pemilik akun bisa ngecek siapa-siapa aja yang pernah mengunjungi friendsternya. Malu dong kalo ketahuan sang target.hehe. Ketahuan kalau selama ini ternyata aku ngefans ma dia. Apalagi bagi orang-orang model kayak aku ini yang lebih suka mengagumi seseorang secara diam-diam. Hohoho. Untung di facebook nggak dikasih begituan, memang kok si pembuat facebook ini sungguh pengertian.
Ada juga fenomena yang sering terjadi di dalam pertemanan facebook. Kalau lagi marah, facebooknya langsung diremove, temen-temen deketnya yang nggak tahu permasalahannya juga ikutan diremove. Ntar kalau udah baikan langsung di add lagi. Terus ntar kalo marahan lagi, cepet-cepetan nge-remove lagi. Atau kalo perlu langsung diblokir sekalian. Hoho, segampang itukah membangun dan memutus hubungan pertemanan?
Aku sering ketawa sendiri kalau baca-baca nama akun fesbuk. Ada beberapa nama pengguna facebook yang penuh sensasional, contoh : x ingin sendiri, x butuhtatihtayang, x maunyasama y, x si bocah tua nakal, x pengen maen odhong-odhong, x anak punk yang tidak doyan sayur. Kira-kira nama alay buat facebookku apa yah? Hmm, mungkin MaiYa enDutTapiImutch. Hahaha…
Buat closing, Let’s Go! Saatnya menganalisis status seseorang :
“Hoaamm… habis bangun tidur enaknya makan nih. Tapi makan apa yah? Ada ide?”
(Wah kayaknya orangnya gendut, hobinya tidur trus tukang makan tapi nggak kreatif soalnya mau makan aja pake nanya-nanya segala)
“Anjriiitttttt…ttttt… nyebelin bgt sih km! Pkokny Loe, Gue, End!!!”
(Mesti dulu nilai bahasa Indonesianya kurang bagus soalnya nulisnya nggak sesuai dengan EYD, suka nonton Opera Van Java)
“Engkau yang sedang kecewa dan kecil hati,
Jatuh itu biasa, tapi janganlah lama berbaring di situ.
Bangkitlah, rapatkanlah rahangmu dengan kuat, dan segeralah lakukan yang penting.
Engkau dapat meningkatkan kualitas hidupmu, dengan meningkatkan kualitas dari cara-caramu.”
(Wow, super sekali…! pasti suka nonton Mario Teguh yah?)
Tapi ngomong-ngomong, betul juga loh kata Pak Mario Teguh. :)

@ foto ala cewe ababil.
Mungkin ada beberapa dari kita yang memanfaatkan facebook sebagai sumber refreshing dari segala kepenatan, kebetean, dan rasa kesepian. Tapi tahukah kamu? Menurut pengalamanku pribadi, aku malah bisa tambah bete kalau lagi buka facebook pas lagi bete. Kenapa? Karena disaat bete emosiku pasti tidak stabil dan saat itulah perasaanku menjadi lebih mudah terganggu oleh hal-hal yang sebetulnya tidak perlu ditanggepin secara serius. Intinya, aku jadi gampang sensitif. Misal, kalau keadaan lagi stabil aku bakal ketawa-ketawa sambil geleng-geleng kepala melihat kekonyolan si mantan pacar yang sedang berusaha deketin cewek-cewek ababil, aku bakalan bersyukur banget karena udah putus sama dia. Namun kalau lagi nggak stabil, cuma lihat kayak itu aja rasanya jadi pengen marah, bisa dibilang aku sedikit cemburu (cuma sedikit sih, gengsi lah), kadang bisa ngrasa sedih dan nyesel karena udah mutusin dia, merasa kalah oke dari cewek-cewek ababil itu. Hahaha… sumpah, pemikiran yang dangkal banget! Pernah, gara-gara lagi labil aku menantang diriku sendiri untuk puasa facebook selama 1 minggu. Rasanya puas banget ketika bisa survive dan bisa melawan diri sendiri untuk tidak membuka facebook selama 1 minggu. Untunglah sekarang udah nggak terlalu kecanduan facebook karena kebetulan koneksi GPRS HP nexian she-ku juga lagi error. So, rasanya sedih tapi seneng. Sedih karena HP error, seneng karena mau nggak mau aku bisa ngerem untuk buka facebook.
Seru juga ketika sedang baca-baca status dari temen-temen, ada yang suka memberikan motivasi, ada yang suka ngomel-ngomel sendiri, ada juga yang merasa bahwa Tuhan itu punya facebook, lalu ada juga yang selalu memenuhi dindingnya dengan status-status penuh cinta. Semua itu wajar dan manusiawi. Akupun pernah melakukannya. Namun terkadang ada juga yang suka menuliskan masalah pribadinya ke dalam status mereka sehingga hal itu menjadi konsumsi publik. Yang tadinya nggak tahu jadi tahu, yang tadinya tahu jadi tempe. (Loh?)
Ada juga yang selalu nulis kata-kata kotor dan kasar di statusnya. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Banyak terdapat luapan emosi disitu, emosi sih boleh tapi jangan berlebihan. Karena secara tidak langsung, mereka justru sedang menghancurkan image mereka sendiri dengan kata-kata yang tidak berguna itu. Sayang sekali kan? Ada juga yang saling menyindir di status masing-masing, berantem di dinding dan status teman dengan kalimat yang tidak berpendidikan, saling mempertahankan ego masing-masing. Seketika itu kecantikan dan kegantengan mereka menjadi tidak ada artinya lagi.
Kalau aku paling seneng buka catatan/notes milik temen-temen, ada banyak hal yang bisa kita dapatkan disitu. Pengalaman hidup, opini, tips-tips, cerita humor, lirik lagu, sampai resep makanan. Aku juga seneng baca-baca blog milik temen. Ternyata kita bisa mendapat banyak hal dan pengetahuan dari situ.
Aku bersyukur karena facebook nggak kayak friendster. Kalo di friendster bakal ketahuan ketika kita mengunjungi friendster milik teman. Si pemilik akun bisa ngecek siapa-siapa aja yang pernah mengunjungi friendsternya. Malu dong kalo ketahuan sang target.hehe. Ketahuan kalau selama ini ternyata aku ngefans ma dia. Apalagi bagi orang-orang model kayak aku ini yang lebih suka mengagumi seseorang secara diam-diam. Hohoho. Untung di facebook nggak dikasih begituan, memang kok si pembuat facebook ini sungguh pengertian.
Ada juga fenomena yang sering terjadi di dalam pertemanan facebook. Kalau lagi marah, facebooknya langsung diremove, temen-temen deketnya yang nggak tahu permasalahannya juga ikutan diremove. Ntar kalau udah baikan langsung di add lagi. Terus ntar kalo marahan lagi, cepet-cepetan nge-remove lagi. Atau kalo perlu langsung diblokir sekalian. Hoho, segampang itukah membangun dan memutus hubungan pertemanan?
Aku sering ketawa sendiri kalau baca-baca nama akun fesbuk. Ada beberapa nama pengguna facebook yang penuh sensasional, contoh : x ingin sendiri, x butuhtatihtayang, x maunyasama y, x si bocah tua nakal, x pengen maen odhong-odhong, x anak punk yang tidak doyan sayur. Kira-kira nama alay buat facebookku apa yah? Hmm, mungkin MaiYa enDutTapiImutch. Hahaha…
Buat closing, Let’s Go! Saatnya menganalisis status seseorang :
“Hoaamm… habis bangun tidur enaknya makan nih. Tapi makan apa yah? Ada ide?”
(Wah kayaknya orangnya gendut, hobinya tidur trus tukang makan tapi nggak kreatif soalnya mau makan aja pake nanya-nanya segala)
“Anjriiitttttt…ttttt… nyebelin bgt sih km! Pkokny Loe, Gue, End!!!”
(Mesti dulu nilai bahasa Indonesianya kurang bagus soalnya nulisnya nggak sesuai dengan EYD, suka nonton Opera Van Java)
“Engkau yang sedang kecewa dan kecil hati,
Jatuh itu biasa, tapi janganlah lama berbaring di situ.
Bangkitlah, rapatkanlah rahangmu dengan kuat, dan segeralah lakukan yang penting.
Engkau dapat meningkatkan kualitas hidupmu, dengan meningkatkan kualitas dari cara-caramu.”
(Wow, super sekali…! pasti suka nonton Mario Teguh yah?)
Tapi ngomong-ngomong, betul juga loh kata Pak Mario Teguh. :)

@ foto ala cewe ababil.
Kamis, 01 September 2011
Teruslah Berkarya, Be Your Self!
Senang boleh, namun jangan mudah berpuas diri atas prestasi atau keberhasilan yang sudah pernah kamu dapatkan. Jadikanlah hal itu menjadi pemicu dan semangatmu untuk berkarya lebih baik lagi. Ciptakan perubahan demi perubahan yang berarti dalam kehidupanmu dan teruslah maju untuk mengukir sejarah demi generasimu mendatang.
Sekilas tentang “buah perjuangan” seorang gadis kecil bernama Galuh Maya Stephani yang belum pandai,yang masih belajar dan ingin terus belajar :
•Juara II Kejuaraan Nasional Terbuka lomba mewarnai gambar majalah peraga pendidikan “Taman Kanak-Kanak” Tahun 1993.
•Juara I Mode Show dalam rangka BAZAR KWJ-GKJ Purworejo Tahun 1993.
•Juara II Festival Nyanyi Lagu Anak-Anak I dalam rangka Hari Anak Nasional & Indonesia Emas Tahun 1995.
•Juara I Festival Nyanyi Lagu Anak-Anak II dalam rangka Hari Jadi Kota Purworejo Tahun 1996.
•Juara I Lomba Menyanyi Tingkat SD dalam rangka Malam Pentas Seni SLTP Bruderan Tahun 1998.
•Juara I Lomba Paduan Suara tingkat Kecamatan Purworejo,
Juara I Lomba Paduan Suara tingkat Kabupaten Purworejo,
Juara I Lomba Paduan Suara tingkat Karisidenan,
Juara Harapan II Lomba Paduan Suara tingkat Provinsi Jawa Tengah, dalam rangka Peringatan Harbenas / Porseni SD Tahun 1999.
•Peserta Lomba Filateli (PALOMFIL’99) tingkat SD se-Kabupaten Purworejo.
•Mendapat tanggapan surat + souvenir dari Bapak Direktur Utama PT.Pos Indonesia (Persero) Tahun 1999.
•Juara III Solo Song Contest Tembang Kenangan dalam rangka Satu Abad GKJ Purworejo Tahun 2000.
•Konser (biola) bersama Sanggar Nuansa dalam rangka memperingati Hari Ibu Tahun 2004.
•Juara I Lomba Majalah Dinding Fakultas Psikologi dengan tema : Psikologi Sosial-Anak Jalanan, Tahun 2008.
•Penampilan tunggal (biola) di Pendopo Bupati Kabupaten Purworejo dalam rangka memperingati Hari Kartini ke-132 Tahun 2011.
“Sebenarnya ada banyak hal indah yang terdapat disekeliling kita, di kehidupan kita. Ini hanya masalah bagaimana kita melihatnya dan apakah kita mampu mewujudkannya”.
Mari Berkarya!
Kamis, 18 Agustus 2011
My Dream's (part 2)
1. Menjadi Sarjana Psikologi.
2. Berwisata ke luar Pulau Jawa.
3. Punya perpustakaan mini, lengkap dengan meja, kursi, dan standing lamp.
4. Les Musik di Ahmad Dhani School of Rock.
5. Menjadi anggota kelompok orkestra di sebuah konser musik.
6. Menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar.
7. Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
8. Meng-homeschooling-kan anak.
9. Punya rumah dengan desain Adat Jawa lengkap dengan furniturnya.
10.Bisa nyetir mobil sendiri.
2. Berwisata ke luar Pulau Jawa.
3. Punya perpustakaan mini, lengkap dengan meja, kursi, dan standing lamp.
4. Les Musik di Ahmad Dhani School of Rock.
5. Menjadi anggota kelompok orkestra di sebuah konser musik.
6. Menjadi Pengajar Muda di Indonesia Mengajar.
7. Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
8. Meng-homeschooling-kan anak.
9. Punya rumah dengan desain Adat Jawa lengkap dengan furniturnya.
10.Bisa nyetir mobil sendiri.
Jumat, 12 Agustus 2011
Mengenang Para "Pahlawan" alias Mantan Pacar
Pahlawan 1
Nama Inisial : A.I.P
Tanggal Jadian : 31 Januari 2003
Selisih Umur : 2 tahun lebih tua dari aku
Hobi : main musik, basket
Jurusan Kuliah : Administrasi Perkantoran
Makanan Kesukaan : kayaknya apa aja suka deh ;)
Panggilan sayang buat Mantan Pacar : Mas Indra
Panggilan sayang dari Mantan Pacar : Dik Maya, Cempluk, Yank Maya
Ngedate pertama kali : nonton parade band di Gedung Wanita dalam rangka hari Valentine
Deskripsi tentang dia : dewasa, bikin aku mati gaya alias grogi, penuh kejutan, tapi kadang suka cuek.
Pahlawan 2
Nama Inisial : A.W.W
Tanggal Jadian: 2 Mei 2004, 1 Januari 2008 (sempat putus nyambung)
Selisih Umur : 4 bulan lebih tua dari aku
Hobi : basket, baca komik
Jurusan Kuliah : Teknik Industri
Makanan Kesukaan : keju
Panggilan sayang buat Mantan Pacar : Ayank
Panggilan sayang dari Mantan Pacar : Cayank, Ndut
ngedate pertama kali : wisata ke Pantai Jatimalang
Deskripsi tentang dia : perhatian, penyayang, on time, tapi kadang terlalu posesif.
Pahlawan 3
Nama Inisial : M.H.K
Selisih Umur : 5 bulan lebih muda dari aku
Tanggal Jadian : 14 Februari 2011
Hobi : traveling, photografi
Jurusan Kuliah : Psikologi
Makanan Kesukaan : bebek goreng
Panggilan sayang buat Mantan Pacar : Gembul
Panggilan sayang dari Mantan Pacar : Gendut
Ngedate pertama kali : nonton bareng di Studio 21 Amplaz Jogya
Deskripsi tentang dia : baik, stay cool, lucu, tapi kadang suka ngaret.
Nama Inisial : A.I.P
Tanggal Jadian : 31 Januari 2003
Selisih Umur : 2 tahun lebih tua dari aku
Hobi : main musik, basket
Jurusan Kuliah : Administrasi Perkantoran
Makanan Kesukaan : kayaknya apa aja suka deh ;)
Panggilan sayang buat Mantan Pacar : Mas Indra
Panggilan sayang dari Mantan Pacar : Dik Maya, Cempluk, Yank Maya
Ngedate pertama kali : nonton parade band di Gedung Wanita dalam rangka hari Valentine
Deskripsi tentang dia : dewasa, bikin aku mati gaya alias grogi, penuh kejutan, tapi kadang suka cuek.
Pahlawan 2
Nama Inisial : A.W.W
Tanggal Jadian: 2 Mei 2004, 1 Januari 2008 (sempat putus nyambung)
Selisih Umur : 4 bulan lebih tua dari aku
Hobi : basket, baca komik
Jurusan Kuliah : Teknik Industri
Makanan Kesukaan : keju
Panggilan sayang buat Mantan Pacar : Ayank
Panggilan sayang dari Mantan Pacar : Cayank, Ndut
ngedate pertama kali : wisata ke Pantai Jatimalang
Deskripsi tentang dia : perhatian, penyayang, on time, tapi kadang terlalu posesif.
Pahlawan 3
Nama Inisial : M.H.K
Selisih Umur : 5 bulan lebih muda dari aku
Tanggal Jadian : 14 Februari 2011
Hobi : traveling, photografi
Jurusan Kuliah : Psikologi
Makanan Kesukaan : bebek goreng
Panggilan sayang buat Mantan Pacar : Gembul
Panggilan sayang dari Mantan Pacar : Gendut
Ngedate pertama kali : nonton bareng di Studio 21 Amplaz Jogya
Deskripsi tentang dia : baik, stay cool, lucu, tapi kadang suka ngaret.
Senin, 15 November 2010
Maiya Punya Cerita
Galuh Maya Stephani, adalah nama yang indah yang pernah diberikan ayah & ibuku untuk menyambut kelahiranku. Puji Tuhan sampai sekarang namaku belum juga berubah menjadi Maya Ahmad apalagi Maya Gutawa. Kecuali kalo suamiku kelak bernama Ahmad Dhani atau Erwin Gutawa. Hehe, nggak mungkin banget! Aku lahir dengan selamat pada tanggal 31 Juli 1988 tepatnya pada hari Minggu Kliwon jam 7 malam di tangan seorang bidan bernama Bu Jundi. Kelahiranku ini tidak segampang kelahiran kakakku. Ibuku hampir kehilangan nyawanya karena proses kelahiranku mengalami kalung usus. Kata orang Jawa, kalau bayi lahir kalung usus itu pasti anaknya ”luwes”, entah itu benar atau tidak, aku sendiri tidak begitu mempersoalkannya. Tak sedikit keringat, darah, dan tenaga yang ibu keluarkan demi mendengarkan tangisan pertamaku di dunia ini. Ketika aku masih berada di dalam rahim, ibuku sempat ngidam sulak alias kemoceng yang terbuat dari tali rafia. Pantesan aja ketika aku udah besar, rambutku lebat banget seperti pake wig (rambut palsu)!
Pernah ada pengalaman buruk ketika aku kecil, aku diajak ibuku pergi arisan. Tak sedikit dari teman-teman ibuku yang selalu menjambak rambutku. Mungkin mereka gemes, karena aku gendut dan rambutku juga gendut.
Ngomong-ngomong, namaku ini punya filosofi lho. Penasaran atau tidak yang penting simak aja deh!
Galuh, artinya ratu, cahaya. Nama ini merupakan pemberian dari eyang kakungku, lebih tepatnya ayah dari ayahku. Beliau berharap agar kelak cucunya ini bisa menjadi ”pemimpin” yang bisa menerangi orang lain.
Maya, artinya semu atau tidak nyata. Namun ayahku mempunyai maksud tersendiri ketika memilih nama ini. Dulu ayahku mempunyai seorang keponakan. Kebetulan keponakan ayahku ini mempunyai sahabat dekat bernama Maya. Maya adalah sosok yang cantik dan ramah. Ayah dan ibuku menyukai anak itu, dan mereka berencana ketika suatu hari nanti punya anak perempuan, anak itu akan diberi nama Maya.
Stephani, nama ini diambil dari film luar negeri favorit ibuku yang berjudul Return to Eden. Ibuku menyukai peran si Stephani dalam film tersebut. Kata ibuku, Stephani adalah orang yang baik hati.
Semoga mereka tidak salah memberikan nama ini kepadaku, dan apa yang telah diharapkan dari nama ini kiranya bisa aku wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak kurang tidak lebih. Aku bersyukur memiliki orang tua sebaik mereka. Inilah profil-profil mereka.
Ayahku bernama R. Syatsam Hadi Banter. Ia seorang yang penyayang dan hampir tidak pernah marah. Namun sekali beliau marah, langsung deh mak jleb banget. Sifatnya yang pendiam ternyata diwariskan kepadaku. Beliau dibesarkan dari keluarga mantri dan bidan. Dari kecil, ayahku sudah menekuni dunia musik. Setelah beranjak dewasa, ayahku meniti karir di Jakarta diawali dengan menjadi seorang bartender di sebuah bar. Dulu penampilan ayahku cukup nyentrik. Rambutnya gondrong, celananya cut bray, beberapa kancing kemejanya selalu dibuka sampai pada bagian dada, (mungkin biar keliatan macho kali yah) dan tak lupa ayahku selalu memakai sepatu fantofel yang hak sepatunya manteb banget buat nginjek orang. :P
Dalam bermain musik, ayahku lebih cenderung menyukai permainan organ. Kemudian ayahku mencoba untuk bekerja sama dengan artis-artis dan penyanyi ibukota untuk menjadi pemain musik mereka. Ayahku pernah berbangga diri di depan anak-anaknya bahwa beliau pernah menjadi pemain film layar lebar. Ketika ditanya lebih lanjut, ternyata ayahku cuma berperan sebagai pemain figuran yang tugasnya hanya lalu lalang di depan kamera.
Ayahku juga berkata bahwa Ibu Diana Nasution, mamahnya Ello itu adalah salah satu kerabat dekat beliau di Jakarta. Wah, kenapa dulu ayahku nggak sekalian aja bikin perjanjian buat jodohin aku dengan Ello? Marcello Tahitoe adalah salah satu public figur yang aku kagumi. Selain berparas item manis, aku suka dengan suara dan gayanya yang khas. Sayang, dia sudah ada yang punya.:(

Suatu hari eyangku jatuh sakit. Hal ini memaksa ayahku untuk meninggalkan kota Jakarta demi menemani eyang di Purworejo. Saat itu eyang menginginkan agar ayahku tetap tinggal dan mencari kerja di Purworejo saja. Sebagai seorang anak yang berbakti akhirnya ayahku memenuhi keinginan eyang dan mulai mencari pekerjaan di kota kelahirannya itu. Hingga akhirnya ayahku ”nyasar” bekerja di B**N, yang notabene pekerjaan itu bertolak belakang dengan skill yang dimiliki oleh ayahku. Tapi syukurlah ayahku bisa beradaptasi dan bekerja dengan baik.
Lain halnya dengan kisah ibuku. Ibuku bernama Erna Suparingsih. Dimataku, ibuku adalah seorang pekerja keras yang selalu memberikan wejangan buat anak-anaknya untuk menjadi anak yang mandiri dan tetap dekat dengan Tuhan. Beliau berasal dari keluarga pendeta yang sederhana dan memiliki 11 saudara. Untuk melanjutkan sekolah, ibuku selalu berusaha agar mendapatkan beasiswa. Ibuku termasuk pribadi yang mandiri dan cerdas. Ibuku sudah terbiasa hidup prihatin dari kecil. Pada jaman kuliah, ibuku tak segan-segan berjualan baju dan seprei untuk menambah uang sakunya. Berkat kegigihan ibuku, beliau berhasil diterima dan bekerja di B*I.
Suatu hari ketika burung-burung berkicau, embun pun mulai memudar menyongsong terbitnya fajar. Saat itulah semesta alam mempertemukan (kembali) ayah dan ibuku di kota Jakarta. Padahal sebelumnya mereka sudah saling kenal di kota Purworejo. Setelah mengenal dan memahami lebih dalam, dengan berbekal restu dari orang tua akhirnya mereka saling mengucapkan janji suci pada tanggal 22 Desember 1985 di Gereja Kristen Jawa Purworejo. Kemudian pada tahun 1987 lahirlah kakak perempuanku yang bernama Eva Ratna Syari Rhosa. Rupanya, kakakku ini tidak kalah imut dari aku. (item mutlak maksudnya).
Waktu kecil aku termasuk anak yang tomboy. Aku lebih tertarik bermain pistol-pistolan (yang bisa bunyi dengan lampu warna warni) dan juga game boy (baik itu jenis tetris maupun perang-perangan) ketimbang bermain boneka yang bulunya kadang bikin aku batuk. Dulu aku hanya mempunyai satu buah boneka singa yang besarnya hampir sama seperti aku. Aku mendapatkan boneka itu tidak dengan cuma-cuma. Syarat dan ketentuan berlaku, yaitu aku harus mendapatkan ranking 1 di kelas.
Tokoh superhero favoritku adalah Ksatria Baja Hitam. Saking ngefansnya, aku pernah minta dibeliin oleh ayahku seperangkat kaset, stiker, dan poster edisi khusus Ksatria Baja Hitam. Setiap sore aku juga selalu nonton filmnya yang ditayangkan di RCTI. Suatu hari aku pernah menangis karena aku ketiduran, hal ini membuatku melewatkan aksi jagoanku itu. Aku sempat menyalahkan ayahku karena tidak membangunkan aku pada saat tayangan itu diputar di TV.
Kata Ayahku, aku termasuk anak kecil yang bisa bercerita secara runtut (detail). Hal itu bisa ditangkap ayahku ketika aku sedang memijit beliau. Dulu aku selalu memijit ayahku sambil bercerita mengenai kisah-kisah dongeng yang pernah aku baca sebelumnya dari majalah Bobo. Aku akan marah ketika ayahku tidak mendengarkan ceritaku. Di akhir cerita (sambil mijit), aku selalu memberikan beberapa pertanyaan buat ayahku mengenai nama-nama tokoh dan intisari dari cerita tersebut. Aku cuma ingin ngetes aja apakah ayahku bener-bener memahami ceritaku itu atau enggak. ;)
Maya kecil pernah bercita-cita untuk menjadi seorang perancang busana. Kebetulan salah satu hobiku adalah menggambar.

Ada beberapa gambar yang aku ciptakan, diantaranya adalah gambar desain baju mayoret. Meskipun seumur-umur aku belum pernah menjadi mayoret, tapi aku senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan mayoret. Aku suka dengan asesorisnya, warna bajunya, dan model bajunya yang unik. Terkadang aku juga bermimpi untuk bisa menjadi seorang mayoret. Sampai-sampai aku pernah bilang kepada ayahku untuk dibeliin stick mayoret. Di jogya kami muter-muter, keluar masuk toko olahraga & alat musik hanya untuk berburu stick mayoret, sayangnya nggak dapet-dapet. Namun akhirnya keinginanku kesampaian juga karena kebetulan kakakku adalah mantan seorang mayoret dan aku bisa bermain stick-nya kapan saja dengan cuma-cuma.
Untuk mengasah bakat serta menumbuhkan rasa percaya diriku, orang tuaku tidak segan-segan mengikutkanku dalam berbagai pentas dan perlombaan, seperti menari, menyanyi, dan juga menggambar. Puji Tuhan aku berhasil membawa pulang beberapa penghargaan dari kompetisi tersebut.
Maya kecil akhirnya beranjak menjadi seorang gadis remaja yang lugu, pendiam dan pemalu. Sebenarnya aku sendiri kurang nyaman dengan karakter sifatku yang seperti itu. Saat itu aku sadar akan titik lemahku yang kurang bisa ngomong di depan banyak orang, aku juga cenderung diam jika tidak ada orang yang mendahului bertanya kepadaku. Tapi aku tidak menyerah begitu saja, aku berusaha dan berusaha untuk melawan rasa pemaluku ini dengan cara masuk ke dalam anggota PKS (Polisi Keamanan Sekolah) yang merupakan kegiatan ekstrakurikuler di SMPku. Selain belajar baris berbaris, rambu-rambu lalu lintas, dan cara menjadi PKS yang baik, disitu aku juga belajar bersosialisasi dengan teman sebayaku. Setelah sah menjadi anggota PKS, akhirnya kami para anggota PKS diberi kehormatan untuk memakai seragam PKS lengkap dengan atributnya sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Saat giliran tugasku tiba, aku merasa bangga ketika bisa mengatur jalannya lalu lintas dan membantu teman-teman menyeberang jalan. Dari situlah rasa percaya diriku mulai tumbuh.
Ketika aku duduk di bangku SMA, aku mencoba untuk mengasah talenta yang sudah Tuhan berikan ke aku dengan cara membuat formasi band baru bernama Bumper Band. Personilnya terdiri dari cewek-cewek manis, kecuali aku sendiri. Hehe... Kebetulan aku mendapat jobdesc sebagai vokalis, dan kadang sering tukeran posisi sebagai gitaris rhytm. Para personilnya berasal dari SMA yang berbeda-beda. Namun hal itu tidak menjadi penghalang buat kita untuk selalu tampil kompak dan tetap disiplin dalam latihan. Hingga akhirnya kami terpilih menjadi band pendamping untuk group band yang sudah tidak asing lagi seperti Seventeen dan Shaggy Dog. Kami juga pernah ikut serta dalam memeriahkan HUT kota Purworejo. Pada suatu hari kami mendapat undangan manggung di Gedung Wanita. Aku agak sedikit kaget karena audiencenya adalah anak-anak punk dimana style-nya gothic n pake baju item-item gitu. Mereka juga pake anting, tindik, tato, dan hal-hal yang bernuansa punk. Agak ngeri juga sih, tapi kita tetep mencoba untuk profesional. Kita juga sempat diwawancarai oleh beberapa wartawan. Alhasil, foto kita yang masih jadul n tampak cupu itu pernah dimuat di majalah Tren dan koran Purworejo Pos. (sombong dikit boleh ya, cuma dikit ko. Karena cuma ini yang bisa disombongin).
Tak ada gading yang tak retak, Tak ada manusia yang sempurna. Begitu juga denganku.
Simak 7 fact about Galuh Maya Stephani berikut ini!
1. Kalau lagi bosen n ga ada kerjaan, biasanya suka mainin rambut sendiri, kadang sering dicabut, atau nyariin rambut yang bercabang lalu dibelah jadi dua. Untung cadangan rambutku masih banyak, kalo enggak dah botak ni kepala. Istilah psikologinya adalah trichotillomania. Tapi nggak segitunya juga kali.
2. Kalau tidur suka ngiler.
3. Pernah operasi mata berkali-kali gara-gara bintitan.
4. Kurang tegas n nggak tegaan kalau sama orang. Hal ini justru membawa dampak yang kurang baik buat perkembanganku.
5. Waktu SMP pernah masuk BP berkali-kali gara-gara salah paham dengan kakak kelas.
6. Alergi pake asesoris imitasi yang terbuat dari logam, tembaga, besi, dan sejenisnya. Kalau dilanggar, pasti langsung gatel-gatel semua ni kulit.
7. Waktu SD pernah musuhan ma salah satu teman cowok di kelasku. Nggak tanggung-tanggung bisa bertahan sampai 2 tahun. Hanya karena temen cowokku itu tidak sengaja melempar bola ke arah mataku pada saat main kasti. Seger banget deh rasanya... Syukurlah, sekarang kami sudah baikan, malahan kalau ketemu sering malu-malu gitu. ;p
Sebenarnya nggak cuma 7 doang ketidaksempurnaan yang aku miliki. Lebih banyak dan banyak lagi. Yang jelas ketika terakhir ngecek, saya ini masih normal dan masih melakukan hal-hal yang wajar dan tidak melanggar norma-norma agama. ;p
Yupz, mungkin ini dulu yang bisa aku share-kan kepada teman-teman. Yang lagi deket ma aku atau yang sudah ada rencana buat PDKT ma aku wajib mikir-mikir dulu atas apa yang sudah tertulis diatas. Hehe. Tapi sekali lagi, saya ini masih pengen jadi orang baik walaupun bukan menjadi yang terbaik.
Pernah ada pengalaman buruk ketika aku kecil, aku diajak ibuku pergi arisan. Tak sedikit dari teman-teman ibuku yang selalu menjambak rambutku. Mungkin mereka gemes, karena aku gendut dan rambutku juga gendut.
Ngomong-ngomong, namaku ini punya filosofi lho. Penasaran atau tidak yang penting simak aja deh!
Galuh, artinya ratu, cahaya. Nama ini merupakan pemberian dari eyang kakungku, lebih tepatnya ayah dari ayahku. Beliau berharap agar kelak cucunya ini bisa menjadi ”pemimpin” yang bisa menerangi orang lain.
Maya, artinya semu atau tidak nyata. Namun ayahku mempunyai maksud tersendiri ketika memilih nama ini. Dulu ayahku mempunyai seorang keponakan. Kebetulan keponakan ayahku ini mempunyai sahabat dekat bernama Maya. Maya adalah sosok yang cantik dan ramah. Ayah dan ibuku menyukai anak itu, dan mereka berencana ketika suatu hari nanti punya anak perempuan, anak itu akan diberi nama Maya.
Stephani, nama ini diambil dari film luar negeri favorit ibuku yang berjudul Return to Eden. Ibuku menyukai peran si Stephani dalam film tersebut. Kata ibuku, Stephani adalah orang yang baik hati.
Semoga mereka tidak salah memberikan nama ini kepadaku, dan apa yang telah diharapkan dari nama ini kiranya bisa aku wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Aku berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak kurang tidak lebih. Aku bersyukur memiliki orang tua sebaik mereka. Inilah profil-profil mereka.
Ayahku bernama R. Syatsam Hadi Banter. Ia seorang yang penyayang dan hampir tidak pernah marah. Namun sekali beliau marah, langsung deh mak jleb banget. Sifatnya yang pendiam ternyata diwariskan kepadaku. Beliau dibesarkan dari keluarga mantri dan bidan. Dari kecil, ayahku sudah menekuni dunia musik. Setelah beranjak dewasa, ayahku meniti karir di Jakarta diawali dengan menjadi seorang bartender di sebuah bar. Dulu penampilan ayahku cukup nyentrik. Rambutnya gondrong, celananya cut bray, beberapa kancing kemejanya selalu dibuka sampai pada bagian dada, (mungkin biar keliatan macho kali yah) dan tak lupa ayahku selalu memakai sepatu fantofel yang hak sepatunya manteb banget buat nginjek orang. :P
Dalam bermain musik, ayahku lebih cenderung menyukai permainan organ. Kemudian ayahku mencoba untuk bekerja sama dengan artis-artis dan penyanyi ibukota untuk menjadi pemain musik mereka. Ayahku pernah berbangga diri di depan anak-anaknya bahwa beliau pernah menjadi pemain film layar lebar. Ketika ditanya lebih lanjut, ternyata ayahku cuma berperan sebagai pemain figuran yang tugasnya hanya lalu lalang di depan kamera.
Ayahku juga berkata bahwa Ibu Diana Nasution, mamahnya Ello itu adalah salah satu kerabat dekat beliau di Jakarta. Wah, kenapa dulu ayahku nggak sekalian aja bikin perjanjian buat jodohin aku dengan Ello? Marcello Tahitoe adalah salah satu public figur yang aku kagumi. Selain berparas item manis, aku suka dengan suara dan gayanya yang khas. Sayang, dia sudah ada yang punya.:(

Suatu hari eyangku jatuh sakit. Hal ini memaksa ayahku untuk meninggalkan kota Jakarta demi menemani eyang di Purworejo. Saat itu eyang menginginkan agar ayahku tetap tinggal dan mencari kerja di Purworejo saja. Sebagai seorang anak yang berbakti akhirnya ayahku memenuhi keinginan eyang dan mulai mencari pekerjaan di kota kelahirannya itu. Hingga akhirnya ayahku ”nyasar” bekerja di B**N, yang notabene pekerjaan itu bertolak belakang dengan skill yang dimiliki oleh ayahku. Tapi syukurlah ayahku bisa beradaptasi dan bekerja dengan baik.
Lain halnya dengan kisah ibuku. Ibuku bernama Erna Suparingsih. Dimataku, ibuku adalah seorang pekerja keras yang selalu memberikan wejangan buat anak-anaknya untuk menjadi anak yang mandiri dan tetap dekat dengan Tuhan. Beliau berasal dari keluarga pendeta yang sederhana dan memiliki 11 saudara. Untuk melanjutkan sekolah, ibuku selalu berusaha agar mendapatkan beasiswa. Ibuku termasuk pribadi yang mandiri dan cerdas. Ibuku sudah terbiasa hidup prihatin dari kecil. Pada jaman kuliah, ibuku tak segan-segan berjualan baju dan seprei untuk menambah uang sakunya. Berkat kegigihan ibuku, beliau berhasil diterima dan bekerja di B*I.
Suatu hari ketika burung-burung berkicau, embun pun mulai memudar menyongsong terbitnya fajar. Saat itulah semesta alam mempertemukan (kembali) ayah dan ibuku di kota Jakarta. Padahal sebelumnya mereka sudah saling kenal di kota Purworejo. Setelah mengenal dan memahami lebih dalam, dengan berbekal restu dari orang tua akhirnya mereka saling mengucapkan janji suci pada tanggal 22 Desember 1985 di Gereja Kristen Jawa Purworejo. Kemudian pada tahun 1987 lahirlah kakak perempuanku yang bernama Eva Ratna Syari Rhosa. Rupanya, kakakku ini tidak kalah imut dari aku. (item mutlak maksudnya).
Waktu kecil aku termasuk anak yang tomboy. Aku lebih tertarik bermain pistol-pistolan (yang bisa bunyi dengan lampu warna warni) dan juga game boy (baik itu jenis tetris maupun perang-perangan) ketimbang bermain boneka yang bulunya kadang bikin aku batuk. Dulu aku hanya mempunyai satu buah boneka singa yang besarnya hampir sama seperti aku. Aku mendapatkan boneka itu tidak dengan cuma-cuma. Syarat dan ketentuan berlaku, yaitu aku harus mendapatkan ranking 1 di kelas.
Tokoh superhero favoritku adalah Ksatria Baja Hitam. Saking ngefansnya, aku pernah minta dibeliin oleh ayahku seperangkat kaset, stiker, dan poster edisi khusus Ksatria Baja Hitam. Setiap sore aku juga selalu nonton filmnya yang ditayangkan di RCTI. Suatu hari aku pernah menangis karena aku ketiduran, hal ini membuatku melewatkan aksi jagoanku itu. Aku sempat menyalahkan ayahku karena tidak membangunkan aku pada saat tayangan itu diputar di TV.
Kata Ayahku, aku termasuk anak kecil yang bisa bercerita secara runtut (detail). Hal itu bisa ditangkap ayahku ketika aku sedang memijit beliau. Dulu aku selalu memijit ayahku sambil bercerita mengenai kisah-kisah dongeng yang pernah aku baca sebelumnya dari majalah Bobo. Aku akan marah ketika ayahku tidak mendengarkan ceritaku. Di akhir cerita (sambil mijit), aku selalu memberikan beberapa pertanyaan buat ayahku mengenai nama-nama tokoh dan intisari dari cerita tersebut. Aku cuma ingin ngetes aja apakah ayahku bener-bener memahami ceritaku itu atau enggak. ;)
Maya kecil pernah bercita-cita untuk menjadi seorang perancang busana. Kebetulan salah satu hobiku adalah menggambar.

Ada beberapa gambar yang aku ciptakan, diantaranya adalah gambar desain baju mayoret. Meskipun seumur-umur aku belum pernah menjadi mayoret, tapi aku senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan mayoret. Aku suka dengan asesorisnya, warna bajunya, dan model bajunya yang unik. Terkadang aku juga bermimpi untuk bisa menjadi seorang mayoret. Sampai-sampai aku pernah bilang kepada ayahku untuk dibeliin stick mayoret. Di jogya kami muter-muter, keluar masuk toko olahraga & alat musik hanya untuk berburu stick mayoret, sayangnya nggak dapet-dapet. Namun akhirnya keinginanku kesampaian juga karena kebetulan kakakku adalah mantan seorang mayoret dan aku bisa bermain stick-nya kapan saja dengan cuma-cuma.
Untuk mengasah bakat serta menumbuhkan rasa percaya diriku, orang tuaku tidak segan-segan mengikutkanku dalam berbagai pentas dan perlombaan, seperti menari, menyanyi, dan juga menggambar. Puji Tuhan aku berhasil membawa pulang beberapa penghargaan dari kompetisi tersebut.
Maya kecil akhirnya beranjak menjadi seorang gadis remaja yang lugu, pendiam dan pemalu. Sebenarnya aku sendiri kurang nyaman dengan karakter sifatku yang seperti itu. Saat itu aku sadar akan titik lemahku yang kurang bisa ngomong di depan banyak orang, aku juga cenderung diam jika tidak ada orang yang mendahului bertanya kepadaku. Tapi aku tidak menyerah begitu saja, aku berusaha dan berusaha untuk melawan rasa pemaluku ini dengan cara masuk ke dalam anggota PKS (Polisi Keamanan Sekolah) yang merupakan kegiatan ekstrakurikuler di SMPku. Selain belajar baris berbaris, rambu-rambu lalu lintas, dan cara menjadi PKS yang baik, disitu aku juga belajar bersosialisasi dengan teman sebayaku. Setelah sah menjadi anggota PKS, akhirnya kami para anggota PKS diberi kehormatan untuk memakai seragam PKS lengkap dengan atributnya sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Saat giliran tugasku tiba, aku merasa bangga ketika bisa mengatur jalannya lalu lintas dan membantu teman-teman menyeberang jalan. Dari situlah rasa percaya diriku mulai tumbuh.
Ketika aku duduk di bangku SMA, aku mencoba untuk mengasah talenta yang sudah Tuhan berikan ke aku dengan cara membuat formasi band baru bernama Bumper Band. Personilnya terdiri dari cewek-cewek manis, kecuali aku sendiri. Hehe... Kebetulan aku mendapat jobdesc sebagai vokalis, dan kadang sering tukeran posisi sebagai gitaris rhytm. Para personilnya berasal dari SMA yang berbeda-beda. Namun hal itu tidak menjadi penghalang buat kita untuk selalu tampil kompak dan tetap disiplin dalam latihan. Hingga akhirnya kami terpilih menjadi band pendamping untuk group band yang sudah tidak asing lagi seperti Seventeen dan Shaggy Dog. Kami juga pernah ikut serta dalam memeriahkan HUT kota Purworejo. Pada suatu hari kami mendapat undangan manggung di Gedung Wanita. Aku agak sedikit kaget karena audiencenya adalah anak-anak punk dimana style-nya gothic n pake baju item-item gitu. Mereka juga pake anting, tindik, tato, dan hal-hal yang bernuansa punk. Agak ngeri juga sih, tapi kita tetep mencoba untuk profesional. Kita juga sempat diwawancarai oleh beberapa wartawan. Alhasil, foto kita yang masih jadul n tampak cupu itu pernah dimuat di majalah Tren dan koran Purworejo Pos. (sombong dikit boleh ya, cuma dikit ko. Karena cuma ini yang bisa disombongin).
Tak ada gading yang tak retak, Tak ada manusia yang sempurna. Begitu juga denganku.
Simak 7 fact about Galuh Maya Stephani berikut ini!
1. Kalau lagi bosen n ga ada kerjaan, biasanya suka mainin rambut sendiri, kadang sering dicabut, atau nyariin rambut yang bercabang lalu dibelah jadi dua. Untung cadangan rambutku masih banyak, kalo enggak dah botak ni kepala. Istilah psikologinya adalah trichotillomania. Tapi nggak segitunya juga kali.
2. Kalau tidur suka ngiler.
3. Pernah operasi mata berkali-kali gara-gara bintitan.
4. Kurang tegas n nggak tegaan kalau sama orang. Hal ini justru membawa dampak yang kurang baik buat perkembanganku.
5. Waktu SMP pernah masuk BP berkali-kali gara-gara salah paham dengan kakak kelas.
6. Alergi pake asesoris imitasi yang terbuat dari logam, tembaga, besi, dan sejenisnya. Kalau dilanggar, pasti langsung gatel-gatel semua ni kulit.
7. Waktu SD pernah musuhan ma salah satu teman cowok di kelasku. Nggak tanggung-tanggung bisa bertahan sampai 2 tahun. Hanya karena temen cowokku itu tidak sengaja melempar bola ke arah mataku pada saat main kasti. Seger banget deh rasanya... Syukurlah, sekarang kami sudah baikan, malahan kalau ketemu sering malu-malu gitu. ;p
Sebenarnya nggak cuma 7 doang ketidaksempurnaan yang aku miliki. Lebih banyak dan banyak lagi. Yang jelas ketika terakhir ngecek, saya ini masih normal dan masih melakukan hal-hal yang wajar dan tidak melanggar norma-norma agama. ;p
Yupz, mungkin ini dulu yang bisa aku share-kan kepada teman-teman. Yang lagi deket ma aku atau yang sudah ada rencana buat PDKT ma aku wajib mikir-mikir dulu atas apa yang sudah tertulis diatas. Hehe. Tapi sekali lagi, saya ini masih pengen jadi orang baik walaupun bukan menjadi yang terbaik.
Catatan Seorang Mahasiswi Psikocluk
Berangkat dari keinginan orang tua, akhirnya saya menjadi salah satu mahasiswi fakultas psikologi di UKSW. Sebenarnya keputusan yang saya ambil ini agak sedikit bertentangan dengan hati dan jiwa saya. Saya cenderung menyukai hal-hal yang berhubungan dengan gambar, desain grafis, ketrampilan, kreatifitas, dan juga musik. Tapi apa kata orang tua ketika saya ingin berkuliah di bidang tersebut? Mereka selalu bilang, “Kamu mau jadi apa kalau kuliah di bidang seperti itu? Sekarang cari kerja itu susah dik”.
Oke, saya mengerti. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Saya jadi berpikir, ketika saya punya anak nanti, saya tidak akan membatasi hak mereka untuk memilih apa yang mereka sukai, tekuni, dan kuasai. Saya ingin mereka berkembang menjadi diri mereka sendiri tanpa ada paksaan dan tekanan dari siapapun. Terserah pengen jadi apa, yang penting mereka bisa enjoy dengan dunianya.
Pasca tragedy penolakan proposal yang saya alami bulan Maret lalu, akhirnya saya off tidak mengerjakan proposal skripsi selama 7 bulan. Saya mutung!. Off disini bukan berarti tidak memikirkannya, saya justru tersiksa karena setiap hari ketika mau makan, mandi, tidur, dan melakukan aktifitas lainnya, saya selalu kepikiran terus dengan 7 huruf keramat itu. Saya bingung mau nulis apa lagi untuk proposal saya, ada ketakutan juga apabila proposal saya ditolak lagi. Hal itu membuat saya menjadi mengulur-ulur waktu dalam mengajukan proposal ke biro skripsi. Kayaknya skripsi saya ini sangat menyita waktu dan pikiran saya. Udah ngalah-ngalahin mikirin pacaran aja nih. Untunglah saat ini saya belum punya pacar, kalau udah punya pasti saya bisa semakin GILA.
Sampai sekarangpun saya masih belum bergairah untuk mengerjakan skripsi saya. Saya juga heran dengan diri saya sendiri, ketika berkunjung di perpustakaan saya jarang membaca buku-buku referensi. Yang saya baca malah koran harian, majalah motivasi, majalah desain, dan aneka resep makanan. Mau jadi apa saya ini? Beta seng tahu maleo…
Tapi entah kenapa saya mempunyai keyakinan yang kuat bahwa saya pasti bisa menjalani semua ini dengan baik. Saya sangat yakin dengan hal itu.
Akhir-akhir ini saya gemar sekali membeli buku dan kemudian membacanya. Buku tentang apa saja yang sekiranya mengena di hati. Salah satu buku bacaan yang sedang saya gandrungi saat ini adalah bukunya Raditya Dika. Rencananya sih pengen beli semua buku-bukunya, tapi belum ada duit. Saat ini saya baru bisa membeli 2 bukunya yang berjudul kambing jantan dan marmut merah jambu. Kedengarannya buku ini seperti bacaan yang agak bodoh. Yuph, bener banget, ini memang bacaan bodoh karena di dalamnya ada tertulis bahwa buku itu adalah catatan harian pelajar bodoh. Tapi melalui kebodohan-kebodohan yang penulis tularkan kepada saya, saya justru merasa menjadi lebih “pintar” dari sebelumnya. Banyak pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapatkan dari kisah hidup seorang Raditya Dika. Kebetulan karakternya yang bodoh, selengekan, pekok, dan apa adanya itu tidak jauh beda dengan kepribadian saya sehari-hari. (Walaupun dalam pergaulan, saya cenderung pendiam dan pemalu. Tapi sebenarnya saya memiliki karakter yang hampir sama dengan si penulis). Dika adalah pribadi yang hebat karena ia berani menyuarakan isi hatinya bahwa ia tidak suka kuliah di bidang finance (Adelaide, Australia), pilihan orang tuanya. Ia hanya ingin bercerita! So Simple! Bercerita tentang banyak hal yang bisa membuat orang lain tertawa, sejenak melupakan kesibukan serta kesedihan mereka.
Melalui bakat dan hobinya menulis cerita di blog, Dika berhasil membukukan blognya tersebut menjadi sebuah novel yang kemudian difilmkan di layar lebar. Sungguh suatu karya yang luar biasa. Dika bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia bisa sukses tanpa harus menjadi seorang ahli finance. Dari kisah hidupnya, saya jadi terinspirasi untuk menjadi seorang ‘Raditya Dika’ tanpa harus merubah kepribadian dan karakter saya yang sebenarnya.
Disini saya juga hanya pengen bercerita, bercerita, dan bercerita.Tidak lebih.
Karena dengan bercerita, saya bisa sedikit lega.
Mari bercerita, bercerita tentang apapun yang ingin kita ceritakan. Mengungkapkan apapun yang ingin kita ungkapkan. Mari suarakan hati kita!
Oke, saya mengerti. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Saya jadi berpikir, ketika saya punya anak nanti, saya tidak akan membatasi hak mereka untuk memilih apa yang mereka sukai, tekuni, dan kuasai. Saya ingin mereka berkembang menjadi diri mereka sendiri tanpa ada paksaan dan tekanan dari siapapun. Terserah pengen jadi apa, yang penting mereka bisa enjoy dengan dunianya.
Pasca tragedy penolakan proposal yang saya alami bulan Maret lalu, akhirnya saya off tidak mengerjakan proposal skripsi selama 7 bulan. Saya mutung!. Off disini bukan berarti tidak memikirkannya, saya justru tersiksa karena setiap hari ketika mau makan, mandi, tidur, dan melakukan aktifitas lainnya, saya selalu kepikiran terus dengan 7 huruf keramat itu. Saya bingung mau nulis apa lagi untuk proposal saya, ada ketakutan juga apabila proposal saya ditolak lagi. Hal itu membuat saya menjadi mengulur-ulur waktu dalam mengajukan proposal ke biro skripsi. Kayaknya skripsi saya ini sangat menyita waktu dan pikiran saya. Udah ngalah-ngalahin mikirin pacaran aja nih. Untunglah saat ini saya belum punya pacar, kalau udah punya pasti saya bisa semakin GILA.
Sampai sekarangpun saya masih belum bergairah untuk mengerjakan skripsi saya. Saya juga heran dengan diri saya sendiri, ketika berkunjung di perpustakaan saya jarang membaca buku-buku referensi. Yang saya baca malah koran harian, majalah motivasi, majalah desain, dan aneka resep makanan. Mau jadi apa saya ini? Beta seng tahu maleo…
Tapi entah kenapa saya mempunyai keyakinan yang kuat bahwa saya pasti bisa menjalani semua ini dengan baik. Saya sangat yakin dengan hal itu.
Akhir-akhir ini saya gemar sekali membeli buku dan kemudian membacanya. Buku tentang apa saja yang sekiranya mengena di hati. Salah satu buku bacaan yang sedang saya gandrungi saat ini adalah bukunya Raditya Dika. Rencananya sih pengen beli semua buku-bukunya, tapi belum ada duit. Saat ini saya baru bisa membeli 2 bukunya yang berjudul kambing jantan dan marmut merah jambu. Kedengarannya buku ini seperti bacaan yang agak bodoh. Yuph, bener banget, ini memang bacaan bodoh karena di dalamnya ada tertulis bahwa buku itu adalah catatan harian pelajar bodoh. Tapi melalui kebodohan-kebodohan yang penulis tularkan kepada saya, saya justru merasa menjadi lebih “pintar” dari sebelumnya. Banyak pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapatkan dari kisah hidup seorang Raditya Dika. Kebetulan karakternya yang bodoh, selengekan, pekok, dan apa adanya itu tidak jauh beda dengan kepribadian saya sehari-hari. (Walaupun dalam pergaulan, saya cenderung pendiam dan pemalu. Tapi sebenarnya saya memiliki karakter yang hampir sama dengan si penulis). Dika adalah pribadi yang hebat karena ia berani menyuarakan isi hatinya bahwa ia tidak suka kuliah di bidang finance (Adelaide, Australia), pilihan orang tuanya. Ia hanya ingin bercerita! So Simple! Bercerita tentang banyak hal yang bisa membuat orang lain tertawa, sejenak melupakan kesibukan serta kesedihan mereka.
Melalui bakat dan hobinya menulis cerita di blog, Dika berhasil membukukan blognya tersebut menjadi sebuah novel yang kemudian difilmkan di layar lebar. Sungguh suatu karya yang luar biasa. Dika bisa membuktikan kepada dunia bahwa ia bisa sukses tanpa harus menjadi seorang ahli finance. Dari kisah hidupnya, saya jadi terinspirasi untuk menjadi seorang ‘Raditya Dika’ tanpa harus merubah kepribadian dan karakter saya yang sebenarnya.
Disini saya juga hanya pengen bercerita, bercerita, dan bercerita.Tidak lebih.
Karena dengan bercerita, saya bisa sedikit lega.
Mari bercerita, bercerita tentang apapun yang ingin kita ceritakan. Mengungkapkan apapun yang ingin kita ungkapkan. Mari suarakan hati kita!
Langganan:
Postingan (Atom)
